 Apakah anda mengenal sesosok Sharbat Gula..?. Memang awalnya gadis mungil ini tidak ada yang istimewa, dan menjadi terkenal setelah 15 tahun kemudian. Sharbat Gula adalah gadis Afganistan, yang saat usianya 13 tahun ikut mengungsi di Pakistan dan terekam kamera oleh jurnalis National Geographic, Steve McCurry.
Hampir selama 15 tahun, berkecamuk penuh tanda tanya saat wajah Sharbat Gula menjadi cover [NG] pada tahun 1985. Tak ada yang tahu siapa identitas model di halaman muka majalah berbingkai jendela kuning. 15 tahun kemudian teta-teki siapa wajah dengan sorot mata tajam dan lengkung alis tegas itu terkuak.
Tahun 2000 Steve McCurry berhasil menguak dan menjumpai gadis yang dulu saat dipotretnya masih berusia 13 tahun. Saat dijumpai gadis tersebut sudah menikah dan mempunyai anak. Aturan yang tegas dan konservatis yang dipegang kokoh oleh Sharbat Gula, membuat kesulitan untuk pengambilan gambar. akhirnya Steve McCurry berhasil mengambil gambarnya, dan jelas sudah misteri gadis afganistan yang selama 15 tahun menjadi tanda tanya.
Sebuah kisah yang menarik, antara Sharbat Gula dan Steve McCurry dan menjadi cerita "Afgan Girl". Apakah ada juga pengalaman serupa, atau setidaknya kisah yang mirip sama. Cerita Afgan Girl menggelitik dan menggugah penasaran saya saat membaca National Geographic Traveler, edisi Mei 2012. Dalam "kisah" yang berjudul Di Sela Gunung, di antara dua gunung api ada sebuah gambar yang menarik. Pada halaman 51 gambar dibawah ada foto ibu-ibu sedang naik kendaraan terbuka dengan latar belakang Gunung Merapi. Jika sedikit iseng-iseng menebak, gambar tersebut diambil saat perjalan menuju desa Selo saat menjelang sore hari disaat bus sudah tidak ada.
Mata saya hanya terfokus pada ibu yang disisi kanan bawah, dengan wajah dan senyuman khas itu membuat penasaran muncul. Akhirnya majalan saya pelototin bener-bener dan memori ponsel saya pindai satu persatu. Mirip tak mirip saya menemukan sesosok wajah yang tak beda jauh jika dikomparasikan. Corak warna selendang yang dikalungkan, raut wajah, ciri khas kerudung adalah kekuatan, yang tak beda jauh dengan sorot mata tajam dan alis yang tegas milik Sharbat Gula. Lantas apa hubungannya dengan gadis Afganistan?, setidaknya sama-sama memiliki rasa penasaran dan tanda tanya dan terjawab lewat sebuah gambar.
 Saya memotret ibu tersebut tanggal 20 Desember 2010, pasca erupsi Merapi. Perjalanan saya yang hendak menuju Puncak Merapi memaksa saya naik mobil bak terbuka, karena bus sudah tidak ada. Dari ponsel iseng saya mengabadikan perjalanan dan pemandangan Gunung Merapi yang saat itu berselimutkan kabut. Ada wajah yang menurut saya menarik dan sampai saat ini masih tersimpan di memori ponsel, walau sudah berganti ponsel. 1,5 tahun kemudian sesosok wajah itu muncul di National Geographic, dan sebuah tantangan untuk mencari siap Mbok Merapi tersebut?. Apakah ada yang punya kisah seperti gadis afganistan dan mbo merapi...? mari dibagikan.  Dalam sebuah petikan Alkitab dituliskan "hati yang gembira adalah obat, tetapi hati yang sedih remukan tulang". Sebuah pesan, betapa kegembiraan itu adalah sesuatu yang menyehatkan, bahkan kesembuhan penyakit juga tergantung dari suasana hati. Hal senada juga di ungkapkan oleh Susilo, pemeran Den Baguse Ngarso dalam acara Bangun Desa yang ditayangkan TVRI pada awal tahun 90an. Menurut Susilo, anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah tertawa. Tertawa, hanya dimiliki manusia, sedangkan hewan hanyalah ekspresi meringkik, meringis atau mendesis.
14/5/2012 di BU UKSW, Salatiga, sebuah kesempatan langka bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan seorang tokoh yang menurut saya bisa menanam benih cerita humor dan berbuah tertawa. Raditya Dika, siapa tidak mengenal dia, seorang penulis novel hebat, artis dan komedian. Sekarang yang terkenal dari dia adalah sebagai comics dalam stand up comedy. Dalam acara talk show yang bertajuk "Kreatif Menulis, Rejeki Tak Akan Habis", mengajarkan audiens bagaimana cara menulis yang kreatif dan mendatangkan rejeki.
Disela-sela pemaparannya lewat slide-slide presentasi, kejenakaan Raditya Dika menjadi ciri khasnya, lewat lelucon yang dibuat secara spontanitas. Genre tulisan Radit yang berbabu humor, maka tak salah dia memaparkan bagaiaman brain storming untuk menciptakan tulisan jenaka yang mampu mengocok perut pembacanya. Dari pemaparan Radit, sebenarnya sangat-sangat sederhana mencari benih-benih lelucon yang siap ditanam untuk dipanen menjadi buah-buah tertawa.
Secara umum sumber komedi dibagi menjadi dua, yakni: observatif dan situasional. Obesvatif merupakan lelucon yang didapat dari pengamatan kita dari berbgai sudut pandang dan dicari sudut-sudut mana yang dianggap lucu dan layak dijadikan lelucon. Komedi situasional, berangkat dari kejadian-kejadian dan ditangkap apa yang lucu. Setelah mendapat sumber bahan, lalu diolah menjadi bahan humor.
Radit mengungkapkan, buku Kambing Jantan hingga Manusia Setengah Salmon, berangkat dari kegelisahan Dia. Kegelisahan yang disulap lewat tulisan dan disarikan lewat kejenakaan, sehingga bukan kesedihan yang ada tetapi sebuha kelucuan. Memang acapkali terlihat konyol, bodoh, tetapi disitulah esensi mencari benih-benih humor yang nantinya bisa dipanen. Radit mencontohkan bagaimana kegelisahan Dia mengenai film-film horor di Indonesia, yang nantinya bisa dijadikan bahan leluconnya. Contohnya "3 pocong idiot" sudah dipocong, idiot lagi, suruh sekolah napa?".
Inti dari kelucuan yang berangkat dari kegelisahan, tak ada artinya jika tidak dibagikan kepada orang lain. "tak mungkin kan akan ditertawakan sendiri, kelucuan tersebut..?" kata Dia. Untuk membagikan kelucuan tersebut, bisa kita bercerita, stand up comedy atau dituliskan dalam sebuah buku. Bagi yang pede ditertawakan diatas panggung, nekat saya menjadi comics, bagi yang tidak tahan silahkan menulis dan biarkan orang lain menertawakan lewat tulisan.
 Berbicara mengenali tulisan, Radit mengungkapkan bagaimana Dia 5 kali ditolak penerbit dan memaksa 6 kali melakukan revisi tulisan. Bukan perkara yang mudah untuk menulis, tetapi harus dipaksa dan dipaksakan. "Apapun hasinya tulisanmu, tetaplah menulis walaupun awalnya jelek" kata Dia. Dia juga mengatakan "jika tidak mood menulis, jangan berhenti, tetapi paksa untuk menulisa, walau satu dua kalimat". "lebih baik 1 atau 2 kalimat, yang nanti bisa disunting, daripada nol atau tidak sama sekali".
Sebuah kesimpulan dari Raditya Dika "it's not what you say, it's how you say it", bukan apa yang anda katakan, tetapi bagaimana cara anda mengatakannya. Sebuah kesimpulan sederhana, bagaimana mengolah hal-hal yang kecil, sederhana menjadi sebuah lelucon terlebih lagi bisa dibagikan baik lewat stand up comedy atau tulisan. Pesan Dia, berikan humor yang cerdas dan postif, sehingga orang lain bisa tertawa dan menilai serta mengapresiasi lelucon-lelucon kita dengan baik. Pelajaran berharga bagaimana mencari benih-benih humor agar bisa melemparkan buah-buah tertawa kepada orang lain. Cinta, memang kadang tak harus memiliki, tetapi dari memiliki maka cinta itu ada. Acapkali susah menemukan cinta jika tak memiliki sesuatu. Sebuah frasa, dari cinta maka sense of belonging itu ada. Ngawur jika cinta itu tidak harus memilik, sebab cinta syaratnya harus memiliki. Cinta adalah perwakilan dari sebuah rasa yang diwujudkan dalam tindakan untuk memiliki dan melindungi apa yang dirasa untuk dimiliki.
6 kali keluar masuk sangkal putung, gara-gara lutut terpelintir sehingga pertulangan mengalami dislokasi. Pergeseran tulang yang rasanya sangat menyakitkan, tak menghalangi rasa cinta untuk kembali merumput di lapangan hijau, walau setiap saat cidera meniskus siap mengancam. Sadar tidak mungkin memperoleh prestasi, maka cinta itu tak butuh tuntutan, tetapi dedikasi dan loyalitas. Siapa yang mau didera cidera gara-gara si kulit bundar, yang cinta itu penyebanya karena punya sense of belonging.
 Ada yang suka hujan-hujan, ditengah hutan, tanjakan terjal dan tantangan ekstreem dari alam?. Dari rasa suka, timbul rasa cinta dan kini sudah memiliki dan terasa tak tergantikan. Sudah 100 kali lebih berkelana dari gunung ke gunung, 12 tahun sudah berkecimpung dengan hobi di alam bebas. Awalnya takut, dan tidak pede, bahkan ada rasa bosan, tetapi kian lama rasa suka itu muncul hingga sampai cinta untuk memiliki. Inilah rasa itu tumbuh menjadi benih-benih bunga edelweis yang melambangkan pengorbanan dan keabadian.
7 tahun kuliah tak membuat kapok dan jera berkutat dengan dunia kehidupan. Berawal dari IPK 1,91 dan hampir drop out, dan perlahan mulai menanjak pelan. Sebuah seleksi alam dari puluhan orang, hingga menjadi beberapa orang saja yang tersisa. Primuz inter parez, atau terkemua diantara yang terkemuka adalah sosok-sosok yang terpanggil dan terpilih lewat seleksi alam yang ketat. Tidak butuh orang yang pintar, tetapi merujuk kepada yang mencintai dan mau memiliki dengan sepenuh hati  . Kini cinta itu menjadi jalan hidup dan begitu menikmati hari-hari dengan mahluk-mahluk mungil tak kasat mata. Cinta itu berkembang ibarat pembelahan biner yang berkali-kali lipat. Saya jatuh cinta dan enggan untuk bangkit menuinggalkan rasa tersebut.  Tak terasa, 29 tahun sudah cinta ini ada dan berharap bisa terus berbungan dan menghasilkan buah-buah yang ramun untuk menjadi benih-benih yang penuh cinta kasih. Tuhan saya mengajarkan dua hal, cinta padaNya dan sesama dengan segenap hati dan akal budi. Rasa tanpa logika adalah bodoh, logika tidak ada rasa adalah goblog. Logika dan rasa harus bersinergi untuk sepenuhnya mencintai dan memiliki. Terimakasih untuk kado berupa tanda cinta untuk hari jadi saya. Salam cinta kasih untuk saling memiliki.
Kata orang bijak, kesehatan adalah segala-galanya, dan tak ada artinya jika segala-galanya tanpa kesehatan. Banyak cara dilakukan agar mendapat kesehatan, baik dari pola makan, olah raga, pola pikir hingga gaya hidup. Banyak faktor bisa mempengaruhi kesehatan, dan salah satunya adalah faktor makanan. Apa yang kita makan adalah profil dari kesehatan kita. Jika kita makan makanan yang baik dan sehat tentu saja hasilnya akan baik pula, bagaimana jika makanan yang kita makan itu kualitas dan kuantitasnya itu kurang baik, tentu saja bisa mengalami apa yang disebut sebagai gizi buruk.
Berbicara mengenai makanan yang sehat adalah ranah yang luas untuk dibicarakan, sebab masing-masing memiliki keunggulannya tersendiri. Tapi bagaimana mengubah makanan yang kelihatannya biasa saja menjadi makanan yang sehat melalui agen-agen biologis. Mungkin bagi kita yang awam tentang kehidupan jasad renik, seperti bakteri dan virus menganggap mahluk tak kasat mata tersebut adalah patogen atau berbahaya. Kalau bisa menghindar sejauh-jauhnya dari yang namanya mikroba, basil, bakteri jamur, khamir dan mikroorganisme yang lain.

Disadari atau tidak, tanpa peranan mahluk-mahluk kecil tersebut kita akan hidup dalam bumi yang dipenuhi sampah. Mereka yang kecil dan tak terlihat mata, bahkan kita benci adalah yang berjasa dalam mengurai material organik sisa atau yang biasa kita sebut dengan sampah. Bayangkan saja anda makan nasi terus saat buang air besar belum menjadi tinja tetapi masih utuh dalam bentuk nasi? tentu akan sangat bermasalah. Tidak semua mikroba itu jahat, berbahaya, merugikan, dan harus di jauhi. Mari mencoba mendekatkan diri dengan mahluk-mahluk tak kasat mata alias lelembut.
Peranan mikroorganisme “bakteri” adalah mendekomposisi atau mengurai material organik. Analogiknya adalah mahluk yang bisa memecah materi-materi organik “gula/karbohidrat, protein, dan lemak” menjadi materi yang lebih sederhana. Intinya adalah menguarikan, sehingga menjadi materi yang lebih kecil. Efek positif dari materi-materi yang lebih kecil adalah memudahkan tubuh kita untuk menyerap sari-sari makanan, karena makanan sudah di urai oleh mikroorganisme. Menurut penelitian, makanan yang sudah difermentasi tingkat penyerapan dalam tubuh lebih besar dibanding dengan makanan yang masih utuh, selain itu makanan bisa lebih awet juga.
Tidak asing ditelinga kita tentang bakteri probiotik, yang dikenal sebagai bakteri yang baik dalam usus. Siapakah mereka itu yang mendapat julukan probiotik?, mereka adalah segerombolan bakteri-bakteri asam laktat. Beberapa nama terkenal meraka seperti genus Lactobacillus, Bifido dan Streptococcus. Bakteri ini hidup dalam usus manusia yang berperan dalam usus untuk menghambat bakteri-bakteri patogen seperti Salmonela penyebab thypus, E. Coli penyebab diare dan lain sebagainya. Mekanisme kerja bakteri probiotik adalah mengubah gula susu menjadi asam laktat, nah bakteri-bakteri yang patogen atau berbahaya yang rentan terhadap asam inilah yang akan terhambat pertumbuhan dan aktifitasnya bahkan mati.
Bagaimana cara mendapatkan bakteri probiotik?, dipasaran sudah di jual dalam bentuk hidup atau segar yang dicampur dalam kemasan minuman. Ada juga bakteri probiotik dalam bentuk serbuk “enkapsulasi” yang siap digunakan kapan saja dan dengan jangka waktu penyimpanan yang cukup lama. Bakteri probiotik biasanya hadir dalam berbagai produk makanan dan yang terkenal adalah yogurt. Yogurt atau susu masam adalah susu yang difermentasi dengan bakteri asam laktat. Dimana peranan bakteri probiotik pada yogurt?, mereka berperan dalam mengentalkan yogurt yakni dengan menggumpalkan protein susu dengan asam laktat yang mereka hasilkan.

Jika kita tinggal di daerah yang jauh dari jangkauan minuman berprobiotik dalam kemasan, jangan kawatir karena bakteri ini ada dimana-mana. Pernah mendengar “Dadih” atau susu kerbau yang difermentasi secara alami. Di daerah sumatra, susu kerbau yang usai diperah kemudian dimasukan dalam bumbung “gelas dari potongan bambu” lalu di tutup dengan daun pisang dan dibiarkan beberapa waktu. Setelah lebih dari 6 jam susu akan mengental dan ada 2 lapisan berupa cairan dan padatan. Cairan tersebut adalam air yang berasa masam kerena mengandung asam laktat, sedangkan padatan adalah protein-protein yang menggumpal. Nah dengan mengkonsumsi dadih, tak berbeda dengan mengkonsumsi yogurt guna mendapatkan bakteri baik tersebut. Keunggulan Dadih adalah, bakteri yang benar-benar terpilih secara alami lewat mekanisme seleksi alam, berbeda dengan yogurt yang bakterinya sudah dipersiapkan sebelumnya lewat starter.
Mikroorganisme selanjutnya adalah jamur dan khamir. Pasti semua tahu yang namanya kecap, pueyem, tempe, air legen dan makanan-makanan lain yang melalui proses pemeraman. Jika kita disuruh makan kedelai berjamur, singkong busuk, tau beras ketan basi tentu tidak mau bukan?. Bagaimana jika berjamurnya kedelai, busuknya singkong dan basinya beras ketan itu lewat cara yang benar, tentu akan berubah pikiran. Tempe bisa dikatakan oleh kedelai yang dijamurkan dengan cara yang benar. Dengan penambahan ragi tempe, kedelai dijamurkan untuk diubah menjadi tempe. Mengapa dan ada apa dengan tempe? peranan jamur tempe Rhizopus adalah biangnya yang biasa disebut sebagai ragi. Jamur ini perperan dalam merombak protein dalam kedelai menjadi asam amino, artinya memecah materi protein yang besar/kompleks menjadi protein yang lebih sederhana, sehingga memudahkan penyerapan dalam tubuh. Itulah keuntungan dengan tempe yakni penyerapan protein lebih besar. Pertanyaan sekarang jika penyerapan protein lebih besar gara-gara ulah Rhizopus, bagaimana jika kita tidak lagi mengkonsumsi susu kedelai tetapi beralih ke susu tempe. Susu tempe? sungguh aneh dan menarik bukan?, prosesnya tak beda jauh dengan membuat susu kedelai, cuma bahannya adalah kedelai yang sudah berjamur alias tempe. Pilihan pada anda, mau makanan terserap lebih banyak atau sedikit..?.
Tape singkong, pueyem, tape ketan penganan tradisional yang sudah tak asing di telinga kita. Makanan yang difermentasi oleh jamur Aspergilus dan Khamir Saccharomyces sudah biasa kita temui dan kita konsumsi. Prinsip kerja dari 2 mahluk mikroskopis tersebut adalah mengubah gula/karbohidrat menjadi alkohol dan asam asetat. Dari proses fermentasi selain 2 produk tersebut yang dihasilkan, juga akan menciptakan aroma dan rasa yang khas. Selain itu gula-gula kompleks/polikasakarida akan dirubah menjadi gula yang sederhana/monosakarida. Material gula yang sederhana tersebut membuat tubuh cepat dalam menyerap untuk dirubah menjadi energi atau cadangan makanan, tanpa harus bersusah payah dalam merombaknya.
Perlu kita sadari, tubuh kita ibarat mesin biologis yang terus-menerus bekerja. Energi yang kita keluarkan untuk aktivitas setiap hari tak jauh berbeda dengan energi yang kita keluarkan untuk merombak makanan, menyerap, mengubah menjadi energi atau menyimpannya. Lewat reaksi enzimatis proses perombakan bahan makanan itu terjadi, dan tak henti-hentinya tubuh bekerja keras untuk menghasilkan enzim. Nah untuk mengurangi beban tubuh ini dalam menghasilkan enzim, kita bisa memanfaatkan mirkoorganisme untuk membantu menghasilkan enzim. Misalkan untuk memecah protein dengan enzim protesase serahlan pada jamur tempe/ Rhizopus, demikian juga memecah gula/pati dengan Amilase serahkan saja pada khamir atau ragi tape.
Dengan makanan yang sudah di fermentasi dengan agen-agen biologi, baik jamur, bakteri, dan khamir sudah bisa membantu kita dalam mengolah makanan. Artinya bentuk makanan sudah mereka sederhakan terlebih dahulu dan baru usu halus kita yang menyerapnya. Selain bertugas merombak makanan, mikroorganisme tersebut ibarat tentara yang bisa kita andalkan untuk menyerang mikroba patogen/berbahaya. Mikroba tersebut juga berperan dalam proses pengawetan bahan pangan lewat proses fermentasi dan juga memberi tambahan rasa dan aroma untuk meninkatkan nilai tambahnya. Tanpa mereka, kita akan hidup dalam lautan sampah, tanpa mereka kita akan diserang habis-habisan oleh mikroba patogen, tanpa mereka kita susah mencerna dan menyerap makanan, tanpa peran mereka kita tidak bisa menikmati makanan dengan aroma dan rasa yang khas. Dengan mereka yang kita perlakukan baik dan benar, niscaya akan bermanfaat bagi tubuh dak kesehatan kita. Mari berkenalan dan bersahabat dengan mahluk-mahluk tak kasat mata atau lelembut yang benar-benar sangat lembut dan dapatkan manfaatnya.
Manusia normal akan memiliki kebiasan yang dijalani setiap hari-harinya. Kebiasan tersebut akan terasa janggal jika sehari saja tidak dilakukannya, entah karena ada halangan atau lupa. Kebiasaan yang setiap hari dilakukan secara terus menerus dan bisa dibilang sebagai rutinitas akan menjadi cetakan untuk membentuk karakter atau bingkai pola hidup.
Katakanlah seorang supir bus malam, yang bekerjanya menjelang senja hingga pagi, atau karyawan pabrik yang mendapat giliran kerja malam. 2 pekerjaan tersebut yang dilakukan secara rutin akan membentuk pola hidupnya dan berpengaruh pada jam biologisnya. Manusia normal memiliki jam biologisnya sendiri-sendiri, tetapi setidaknya hampir semua orang memiliki reratanya. Contoh paling gampang adalah tidur pada malam hari, terbangun pagi hari, rasa lapar, rasa kantuk dan lain sebagainya. Orang yang sudah terpola hidupnya, tentu akan sangat sulit buang air besar pada jam dimana dia tidak biasa buang air besar, dalam keadaan normal. Bisa dikatakan mereka yang tidak biasa sarapan, pagi-pagi suruh sarapan akan terasa janggal. Itulah jam biologis, yang akan berdampak pada sistem metabolisme tubuh.
Sebenarnya tubuh manusia itu fleksibel dan bisa ditekak-tekuk kesana kemari, karena manusia tercipta sebagai mahluk yang adaptif, buktinya adalah kita tidak punah. Artinya, manusia mampu dan bisa menyesuaikan diri dalam keadaan apapun. Efek dari penyesuaian diri tersebut mengakibtakan terjadinya perubahan dan pergeseran dalam sistem kehidupan manusia, mulai dari pola pikir, gaya hidup, hingga jam-jam biologis. Tidak ada yang berubah, tetapi sedikit mengalami pergeseran.
Barusan mendapat keluhan teman yang terusik gara-gara tidak bisa tidur tiap malam. Dia bilang kena “insomnia”. Saya meragukan hal tersebut, karena pada pagi atau siang hari dia bisa ngantuk dan tertidur, artinya berbeda dengan insomnia yang sama sekali tidak bisa tidur. Teman saya sedikit bisa saya tarik kesimpulan, terjadii pergeseran jam biologisnya akibat tubuh yang telah beradaptasi dengan kondisi tertentu. Melihat latar belakang dia dan pekerjaannya, tentu saja sangat berpengaruh, karena jam biologis berkaitan langsung dengan rutinitas dia. Bekerja sebagai kru di rumah produksi film, menjadi aktivis lingkungan, hobi olah raga alam bebas, perokok berat, dan pecinta kopi adalah rutinitas kesehariannya. Bayangkan saya dari pekerjaan, hobi dan apa yang di konsumsi, yang setiap saat harus standby dalam pekerjaan dan selalu terjaga.  Tubuhnya akan dipaksa untuk bekerja, kapanpun dan dimanapun, maka kopi dan rokok adalah andalannya. Tubuh yang dipaksa, maka akan merubah metabolisme tubuh yang seharusnya itirahat kembali dipakai untuk bekerja. Begitu sebaliknya saat jam orang lain bekerja dia mengistirahatkan diri. Nah andai kata supir bus malam itu mudah mengantuk pada malam hari alangkah celakalah penumpangnya, begitu juga buruh pabrik yang dapat jatah kerja malam yang ngantuk bisa surat peringatan yang dia dapat.
Memang tidak mudah mengembalikan tubuh keposisi normal, bisa dikatakan sebagai kalibrasi tubuh. Cara paling mudah adalah dengan mulai pelan-pelan merubah gaya hidup, pola pikir, konsumsi makanan, makan secara pelan tubuh akan kembali menyesuaikan diri. Mustahil sekali jika kita bisa merubah atau memodifikasi kehidupan, tetapi tidak bisa mengembalikan?. Mungkin kalau pelan tidak bisa, maka harus dipaksa seperti saat anda mengkonsumsi kopi dan rokok untuk memacu tubuh selalu segar dan terjaga, tetapi kini dibalik, kurangi dan hindari kafein dan nikotin.
Saya mengibaratkan, seorang yang sakit gigi pasti akan menyumpahi “bakalan tak cabut ini gigi yang sakit”. Nah begitu sembuh, apakah jadi mencabutnya…?, begitu gigi kembali kambuh sakitnya maka sumpah cabut gigi muncul kembali, dan begitu sembuh “lupa kembali”. Sangat sederhana, cuma butuh niat dan keberanian saja untuk mengubah pola hidup menjadi normal. Apakah saat kita merasakan butuh ini sudah tidak normal baru mengkalibrasinya, atau tetap menjaga dalam keadaan normal? jawaban pada kita sendiri.

Jam biologis kita mengsyaratkan, bangun pada pagi hari “subuh” disaat suhu tubuh dari titik terendah kembali naik dan tekanan darah naik. Saatnya berolah raga, dan keluarkan kotoran dan racun dalam tubuh “tinja, urine, keringat”. Jam 6-7.30 jangan lupa sarapan yang ringan namun bernutrisi, karena jam 9 adalah jam usus halus menyerap sari-sari makanan. Rasakan efeknya sekitar jam 10-11an saat kita benar-benar dalam puncak penampilan, dan jangan lupa jam 12-13 di isi kembali energinya dan istirahatkan sebentar.
Menjelang sore adalah saat kondisi benar-benar fit dan aktifitas peredaran darah terbesar, maka gunakan untuk bekerja secara maksimal atau berolah raga, jangan lupa sesekali kasih asupan yang baik dan benar. Menjelang petang, tekanan dari kita akan naik dan begitu juga dengan suhu tubuh, sehingga langkah paling baik adalah bersantai dan istirahat. Konsumsi makanan yang ringan dan tidak terlalu banyak gula dan lemak karena akan membebani tubuh saat istirahat. Menjelang malam, mekanisme pencernaan akan semakin pelan mengisyaratkan kita untuk tertidur. Pola jam biologis pada orang yang normal, akan berputar demikian seterusnya. Apabila terjadi pemerkosaan, maka tubuh yang fleksibel ini akan menggesernya untuk menyesuaikan diri. Jika terjadi perubahan jam biologis, artinya terdapat kelainan dalam tubuh karena sudah keluar dari standar yang ada, segera kalibrasi agar normal kembali.

Mari bangun pagi,olah raga jangan membiarkan analogi sumpah gigi itu terjadi. Apakah kita baru akan sadar pentingnya kesehatan saat usia senja? begitu mengetahui ada yang tidak beres dengan tubuh. Nikmati jam-jam biologis sejak dini, dan jadi yang normal-normal saja, walaupun dalam keadaan tertentu kita bisa merubahnya. Kesehatan adalah segala-galanya, dan tanpa kesehatan semua tak berarti apa-apa.
Salib yang berdiri didepan mata ini seolah mau berkata. Sejuta makna, tetapi bungkam tak bisa berkata-kata. Entah apa yang terjadi, tetapi coba lihat ada secercah cayaha terang dibelakang sana. Salib yang hitam kelam ini seolah menjadi saksi betapa kelamnya kebenaran yang ditutup oleh tabir, namun akan segera sirna oleh cahaya keesaanNya. Salib itu tersinari oleh cayaha kebenaran untuk mengungkap kenapa Dia di salib?. Sang kala yang akan menjawab itu semua, dan kita akan mengetahui saat sesuatu itu indah pada waktunya seperti selendang yang membalutnya.
Hari ini umat Kristiani seluruh dunia memperingati Jumat Agung, yaitu saat Yesus menyerahkan dirinya di kayu salib. Tidak asing lagi cerita bagaimana saat-saat Yesus di salib, mati, lalu dikuburkan dan setelah itu bangkit. Saya kira semua umat Kristen mengetahui sejarah tersebut, bahkan sejak kecil sudah menjadi cerita yang menarik saat di Sekolah minggu. Saya dengan iman yang masih dangkal hanya ingin melihat dari sudut pandang lain bagaimana memandang kisah penyaliban Yesus tersebut dengan kondisi bangsa ini.
Dalam lirik lagu Perahu Retak karya Franky S, ada kalimat "yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan". Frangky S, mencoba menggambarkan keadaan negeri ini berkaitan dengan ranah hukum yang dijadikan panggung sandiwara. Tak ubahnya panggung tersebut merip awal masehi, saat Yesus mengalami penganiayaan. Siapa saja yang dianggap makar, menentang kebijakan yang ada, langsung tangkap. Siapa yang berkuasa dialah yang berjaya, itulah politik masa itu dan ada sampai saat ini.
Yesus, sebuah nama yang tak asing bagi kita. seorang yang sangat kontroversial, bagi penganutnya dijadikan tokoh panutan dengan ajarannya tentang cinta kasih. Bagi oposisinya, Yesus adalah musuh terbesar yang ada didunia ini, hingga kenyataannya harus ditangkap hingga meregang nyawa di bukit Golgota. Benar kata orang, politik itu kejam, tak pandang orang, yang tak sepaham langsung dihantam tanpa peduli kebenaran dan keadilan, yang penting posisi aman.
Jauh sebelum Yesus dilahirkan, paran Nabi sudah menubuatkan akan kelahiranNya. Banyak yang meragukannya, tetapi seorang raja Masyur Herodes telah membuktikannya. Baru saja mendengar kelahiranNya, ketakutan luar biasa sehingga memunculkan kemarahannya. Akibat kekawatirannya tersebut, banyak anak laki-laki yang baru lahir harus berumur pendek karena dibunuh. Sebelum lahir saja sudah memberikan kontroversi, hingga saat dia lahir muncul tragedi.
Singkat kata, Dia harus menggenapi apa yang telah tertulis dan menghembuskan nafasnya terakhirnya di kayu salib. Konspirasi besar dengan muatan politis ada dibaliknya tanpa ada yang berani mengungkap, membela bahkan membuka tabir-tabir yang menutupinya. Seorang Pilatus pun cuci tangan dan bingung mencari, Dia salah apa hingga harus diperlakukan layaknya durjana.
Bagaimana dengan negeri ini, adakah manusia yang hampir mirip dengan Yesus nasibnya. Orang benar yang harus menerima kenyataan dijadikan pesakitan, dan mereka yang seharusnya menjadi pesakitan malah bersorak riang. Memang saat ini adalah seperti saat Yesus itu di salibkan, dimana kebenaran di bungkam dan tak ada yang berani menyuarakan. Kalaupun ada yang menyuarakan, itupun tak bakal didengar bahkan tutup telinga untuk mencari siasat serangan balik.
Saya tidak tahu, saat ini mereka yang menjadi pesakitan apakah seperti penjahat yang menemani Yesus di Salib, atau memang orang benar yang dipersalahkan. Mungkin waktu yang akan menjawab seperti saat menemukan kebenaran bahwa Yesus tidak terbukti salah. Memang tidak baik menghakimi orang lain, tetapi biarkan hukum ini benar-benar tegak berdiri memayungi yang benar dan menghukum yang salah.
 Kini Yesus sudah terlanjur di salib sebagai wujud penggenapan apa yang telah disuratkan. Kiranya contoh dari penyaliban Yesus menjadi permenungan, bagaimana hukum negeri ini di tegakan. Yang bener memang harus benar dan salah biarkan mendapatkan ganjarannya, dengan berpegang pada prinsip keadilan. Jangan sia-siakan kematiannya di kayu salib, tetapi menjadi contoh dan bukti, kebenaran akan tetap dan waktu yang akan membuktikannya. Kini Salib tak bertuan, dan menjadi bayang-bayang kebenaran. Selamat Jumat Agung, salam damai dan kasih.
Pernah anda pergi ke bengkel motor atau mbil?. Nah jika pergi ketempat itu pasti dengar suara bising, kotor, terkena noda oli adalah hal yang wajar. Apakah anda akan protes, tidak terima, marah-marah gara-gara telinga anda mendengar suara berisik, pantat anda kotor gara-gara salah duduk atau tangan anda terkena noda oli?. Tentu saja akan diam saja, walau dalam hati mengumpat. Anda mengumpat, adalah hal yang wajar karena anda merasa tidak nyaman tentunya.
Nah sudah beberapa hari ini saya kena kena komplain oleh beberapa orang hingga sampai mau dilaporik ke atasan. Laboratorium tempat saya bekerja kini seperti pabrik aroma yang baunya luar biasa "wangi jamban". Bayangkan saja, kakus saja masih saya anggap wangi, betapa luar biasa bau busuknya. Tidak sedikit yang komplain, marah-marah, memaki-maki dan mengumpat gara-gara mencium aroma yang sangat tidak sedap.
Berawal dari penelitian saya tentang aktivitas bakteri dalam proses fermentasi. Nah jika yang saya fermentasi adalah tape ketan atau singkong maka yang keluar adalah bau tape atau alkohol. Apabila yang saya fermentasi adalah sari buah anggur yang keluar adalah aroma wine. Bayangkan jika yang saya fermentasi adalah daging ikan, udang, cumi dan hewan bercangkang?.
Aroma asam, tengik, amis, anyir, daging busuk dan masih banyak lagi bau yang susah di definisikan keluar memenuhi ruang laboratorium dan sekitarnya. Ya wajar saja jika banyak yang tidak terima dan akan mengancam mendeportasi alias mendepak saya dari laboratorium gara-gara aroma wangi kakus tersebut. Akhirnya sampai titik kesabaran dari mereka yang terusik karena bau yang sangat tak sedap tersebut.
Dipanggilah saya dan niat hati di hakimi rame-rame. Tuduhan dan ancaman keluar dari mulut-mulut yang tak terima gara-gara bau tersebut. Layaknya dalam persidangan maka bolehlah memberikan pembelaan. Karena saat itu tidak ada penasehat hukum, terpaksa membela atas nama sendiri. Ambil nafas panjang lalu dengan suara pelan muali menyusun kata-kata mutiara.
Diawali dari sebuah dongeng, tentang sebuah kehidupan. Menurut kalian, bagaimana jika seekor anjing pelacak tiba-tiba pilek dan saat itu dia di andalkan untuk mencari bom disebuah gedung dan kalian semua terjebak di dalamnya?. Terlalu susah ya menangkap analogi saya, oke saya ganti, andaikata kalian flu berat dan hidung berlendir, apa yang terjadi jika didalam laci meja kerja anda ada bangkai tikus?. Masih terlalu susah sepertinya memberikan analogi kepada otak-otak yang sudah pilek.
Oke pembelaan terakhir, apa fungsi laboratorium, "untuk penelitian" jawab mereka. Kalian tahu apa yang saya teliti "tahu dan paham", nah sekarang kalian kelaboratorium mau apa? mau meneliti, mau main-main atau mau menduduk perkarakan orang yang sedang meneliti. Saya sadar kalian mau muntah gara-gara bau, apa kalian membayangkan dari kejauhan saja sudah bau, apalagi yang bersentuhan langsung sehari dari jam 8 pagi sampe jam 6 sore?. Oke saya paham kalian orang akademis yang harus berpikir layaknya orang terdidik dan terlatih? bukan seperti orang bar-bar main paksa dan mengerahkan masa. Jika anda merasa bau, seharusnya kalian syukuri, hidung kalian masih sehat, normal dan masih diberi kesempatan untuk menikmati aroma ini. Kenapa kalian memakai parfum, saya yakin bau badan sehingga memakai pewangi untuk menyamarkannya?.
Bayangkan jika lalat itu pilek, dari mana mereka mendapatkan makanan?. Bayangkan anjing pelacak jika hidungnya tidak bisa mencium bau, paling mereka akan masuk dalam wajan penggorengan dan dijadikan rica-rica buat santapan kalian. Ini laboratorium mas, mbak, nah jika bau ini dari kantor wajar semua pada teriak. Ini laboratorium tempat orang meneliti dan mencari jawaban dari sebuah ketidak tahuan dibalik rasa penasaran. Jika jawaban itu sudah ada selesai perkara kok. Biarkan saya fokus pada pekerjaan saya dan segera bau itu akan hilang. Kalian semua yang terhormat, maunkan peran akademis donk buat mensiasati bau ini bukanya dengan mulut dan cara ngawur begini. Semakin lama saya disini semakin bau itu tidak akan beranjak dan biarkan saya bekerja makan akan semakin cepat hilang.
Apabila kalian tidak terima dengan gangguan ini, silahkan lapor ke atasan biar saya yang menghadapinya. Oke semua bubar dan terimakasih atas perhatiannya, saya berharap kalian tetap memiliki hidung yang sehat "bau itu nikmat jendraaaaaaal". Usai di hakimi segera lapor atasan dan satu jawaban "lanjutkan kan yang nyuruh saya". Kembali mengenakan masker kaya tentara yang kena bom kimia biologis, wajahku seperti alien hahahaha.... pantasan kalian komplain, pakai dunk masker seperti ini, dijamin tidak bau dan aman, kalo kurang pencet...cessss hembusan oksgien terasa nikmat sekali.
Pepatah mengatakan "pembeli adalah raja", pembeli yang bagaimana yang pantas di jadikan raja?. Apakah raja yang harus dilayani, dihormati atau raja yang terpaksa dicaci maki. Mengingat kata seorang Nabi besar "berlakulah seolah engkau menjadi penjual saat engkau menjadi pembeli, dan begitu sebaliknya". Asumsi yang demikian akan membuat orang merasakan bagaimana saat seorang raja menjadi pelayan dan pelayan yang menjadi raja, sehingga tahu situasi dan kondisinya masing-masing.
Bagi profesional, yakni dapur mengepul sepenuhnya dari pekerjaanya memang di tuntut dedikasi dan totalitas, apapun konsekuensinya. Ingat BBM batal naik, sebagai pelaku profesional usaha swasta adalah sebuah guncangan, disaat harga-harga naik gara-gara isu BBM naik. Katakanlah sangat sederhana, biasa parkir 500 perak, tadi per 1 april naik menjadi 1000 perak alias 100%. Tadi sore terkejut bukan main, biasa nyetak foto perlembar 1000 perak kini berubah menjadi 1.750 perak, luar biasa naik 75%.
Apalah arti uang 500 perak menjadi 1000 perak untuk parkir, dan harga selembar foto dari 1000 menjadi 1.750 perak. Kenaikan parkir 100% dan cetak foto 75% saya kira kenaikan yang sungguh dasyat, melebihi kecepatan roket. BBM dari 4500 perak menjadi 6000 perak yang jika dikalkulasi hanya naik 33,33% sudah pada teriak dan bikin heboh. Apakah gara-gara melihat nominal angka 1500 lebih besar di banding 500 dan 750..?. Memang jika melihat selisih angka sangat berbeda jauh dan signifikan, tetapi kalau dilihat prosentasi kenaikan tidak seberapa bila dibanding dengan 50 dan 100%.
Pelaku bisnis yang bermain dalam ranah fotografi, sebagai sambilan, hobi dan mainan yang menghasilkan tidak boleh sembrono jika tak mau gigit jari. Dulu dengan modal 200 ribu bisa menghasilkan uang 500 ribu atau lebih, tetapi gara-gara naik 75% biaya produksinya, terpaksa sebelum gigit jari harus gigit bibir gara-gara geram. Lupakan gigit jari, karena itu resiko pelaku bisnis yang haru tetap dijalani. Sekarang mau membahas pembeli adalah raja saja, kalau mikir duit bisa meriang tuju keliling.
Karena dikejar oleh klien, maka hasil jepretan pagi hingga siang harus segera di proses. Rencana ini malam pekerjaan sudah usai dan diserahkan pada klien. Dari siang hingga sore mengerjakan proses editing, dan setelah selesai segera bawa ke lab cetak foto. Sesampai di lokasi segera saya kasih flashdisk untuk segera di copi filenya. Agak terkejut juga masalah harga cetak yang naik 75%, tapi tak apalah demi kepuasan klien sebagai raja. Kepuasan klien adalah segala-galanya dan susah dibandingkan dengan harga.
Akhirnya file suda di salin dan segera saya bayar lunas untuk ongkos cetaknya dan kesepakatan pukul 19.30 bisa di ambil. Akhirnya jam 19.15 sudah di TKP siapa tahu sudah jadi, malah yang ada tragegi. File tidak terbaca di komputer mereka, akhirnya pulang ambil file lagi dan mereka sanggup untuk mencetaknya kembali. File di ambil dan berhasil di copy kembali, dan mereka menyerahkan foto-foto yang sudah tercetak. Tiba-tiba mereka membatalkan kesepakatan karena toko harus tutup. Alasan dan argumen saya ditolak mentah-mentah dan terpaksa menuruti mereka untuk kembali jam 10 esoknya. Eh baru mau keluar dari parkiran, kasih 500 perak di tolak trus minta 1000 perak, katanya per april naik.
Dengan rasa kecewa, geram dan jengkel harus terima pemutusan kesepakatan tersebut. Sampai dirumah akhirnya dengan segala kerendahan hati meminta maaf kepada klien karena tidak bisa menepati janji dan esok sebelum jam 12 sudah jadi. Mengerjakan apa yang ada dulu daripada hati gundah gulana. Foto yang sudah dicetak sebagian saya tata untuk dipindah dalam album foto. Kembali tragedi muncul, foto yang ingin saya cetak hasilnya diluar perkiraan. Gambarnya gelap dan jauh dari file aslinya.
Dalam hati hanya berguman, ini apa-apaan kenapa hancur semua. Saya sudah mencoba menjadi pelayan yang baik, tetapi kenapa saat saya menjadi raja pelayanannya kacau begini. Apakah operator mesin cetak tidak bisa membedakan warna CYMK dan RGB, atau menset mesin cetak ke mode auto. Bagi saya ini adalah fatal, puluhan gambar bahkan ratusan sepertinya akan sia-sia tercetak karena tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Kepuasan pelanggan adalah segala-galanya, bukan bisnis dan duit. Saya hanya bisa marah-marah lewat tulisan saja, daripada ngamuk distudio lab cetak foto, toh mereka juga seperti saya juga. Langkah terbaik, kasih masukan yang baik dan bicarakan dengan baik-baik, jika memang tidak bisa terpaksa "loe gue end", "rika inyong rampung", "sliramu kulo pegat".  Kamari  n sore 29/3/2012 di tempat saya kuliah ada pertandingan final sepak bola. Pertand ingan yang ketat dan keras terjadi, karena demi gengsi dan gelar juara. Ada sebuah insiden yang membuat 1 lapangan terlihat panik, yakni ada salah satu pemain yang terjatuh karena tabrakan antar pemain. Salah satu pemain yang jatuh tersebut mengalami inflamasi atau pembengkan pada ruas tangan. Pembengakan sedemian cepatnya dan terlihat tanganyang membengkok, sepertinya mengalami patah tulang. Pemain yang terkapar di tengah lapang kemudian didatangi tim medis, yakni dari panitia penyelenggara. Kepanikan terlihat dari masing-masing raut wajah mereka, sebab menemui kejadian yang tidak biasa mereka tangani. Akhirnya pemain yang cidera yang diindikasi patah tulang di tandu k eluar lapangan, tetap dengan penanganan yang kurang benar. Dari mulai mengangkat pemain, mengusung dengan tandu, hingga penata laksanaan saat pemain sudah di pinggir lapangan. Bagaimana tidak panik? biasa menangi kaki kejang "kram", lecet kini harus berhadapan dengan patah tulang. Melirik di kotat obat mereka, hanya ada obat gosok, anti septik, kain kasa, dan obat-obatan standar kotak P3K. Sangat di sayangkan dari kejadian tersebut dan lambatnya pertolongan, jika saya melihat dan menilai dari kejadian tersebut. Panitia dan tim medis yang tidak siap terlihat dari setiap penangannya . Akhirnya yang cukup sangat di sesalkan, kampus saya yang punya poliklinik, dokter jaga, tim medis, fakultas keperawatan, ambulan tak dimanfaatkan, dan lebih percaya pada mobil angkot untuk membawa korban ke tukang urut. Potret bagaimana pendidikan kesehatan di Indonesia mengenai P3K masih kurang. Awal tahun 1990 waktu sa ya masih SD saya terpilih menjadi Dokter Kecil. Waktu libur sekolah, kita yang terpilih jadi Dokter Kecil mendapat pelatihan kesehatan dan penanganan kecelakaan di Puskesmas pada waktu itu. Menjelang SMP ikut Palang Merah Remaja, dan dapat pelatihan serupa namun lebih mendalam. Saat SMA mengikuti juga pelatihan SAR, dan terjun langsung di lapangan dengan membantu evakuasi korban kecelakaan di Gunung Merbabu. Saat kuliah sudah terbiasa turun langsung di lapangan, di awali gempa Yogya, Erupsi Merapi. Pengalaman-pengalaman berharga yang saya dapat dari setiap kejadian. Saya merasakan betul apa manfaat saya jadi Dokter Kecil dulu yang sering mendapat cemoohan g ara-gara setiap ada yang pingsan saat upacara hanya bisa menunggui di UKS dengan balsem di tangan. Nah bagaimana dengan teman-teman saya? selebihnya tidak tahu menahu bab P3K. Patut di sayangkan, kekurang tahuan tersebut biasanya menjadi malapetaka bagi si korban. Saya kira semua pernah lihat tayangan sepak bola di televisi, nah saat ada pemain yang cidera dan tim medis datang langsung segera di tangani. Dari tayangan televisi itulah acapakali gerakan-gerak an spontan kita tirukan tanpa mengetahui cidera apa yang sebenarnya terjadi. Pernah saya mengalami cidera kaki terpelintir pada bagian lutut, dan saya hanya berpikir "cidera meniskus". Saat saya terkapar di lapangan dan teman-teman menolong, spontan mereka memegang kaki dan meluruskan lalu menekuk ujung kaki seperti yang mereka saksikan di televisi. Mereka tidak tanya saya cidera apa dan langsung main tekuk dan tekan saja. Pernah saya mendengar pernyataan dari ahli kesehatan, saat cidera kita dilarang memijit karena akan menambah cidera. Untuk mencegah luka cidera lebih parah kompres dengan air dingin atau es, nah itu yang kadang kita abaikan. Ada yang jatuh langsung luruskan kaki dan tekuk tekan seperti yang ada di televisi-televisi dan kebanyakan orang lakukan. Memang niat baik menolong korban, tetapi dengan prosedur yang salah bisa menambah luka pada korban. Perlu disadari pengetahuan kita tentang P3K sepertinya masih minim bahkan tidak ada. Tidak adanya pelatihan dan pendidikan tentang kesehatan dan P3K adalah salah satunya. Dalam kurikulum di sekolah saya kira tidak ada, kalaupun itu ada hanyalah bagian dari kegiatan ekstrakurikuler. Daerah kita "cincin api" yang konon rawan bencana semestinya banyak memberi pelatihan P3K pada generasi mudanya sebagai tulang punggung sewaktu-waktu bencana itu terjadi. Di beberapa pemberitaan, negera Jepang jauh lebih siap dalam masalah P3K dengan terus mengadakan simulasi dan pelatihan. Memang siapa yang mau celaka, pasti tidak ada yang berharap menerima dan menghadapinya. Bagaimana saat untu ng tak diraih malah celaka yang datang, mau tidak mau harus siap dalam menghadapinya. Kejadian kemarin mengingatkan saya, betapa pentingnya P3K itu, sebab kecelakaan tidak bisa di prediksi. Bayangkan jika anda menjadi korban dan yang menolong terlihat panik dan sembrono? bagaimana perasaan anda? sudah sakit dan tambah menyakitkan. Nah bagaimana seharusnya membuat korban itu selamat, aman dan nyaman, tetapi dengan adanya kepanikan entah apa perasaan si korban mungkin sudah sakit, ditambah geram, jengkel sebab melihat orang pada bingung. Sekali lagi penting belajar P3K sebab celaka itu datang tak di undang dan pulang harus segera di tolong. BBM yang mendekati detik-detik kenaikan harga sudah disambut meriah oleh kenaikan beberapa bahan pokok, angkutan bus dan beberapa barang lain yang kadang tak ada sangkut pautnya dengan BBM. Memang pusing jika terus berkutat dengan BBM yang tak jelas akar permasalahan ujung pangkalnya, yang penting bisa makan kenyang, beres. Pangan adalah kebutuhan vital bagi kita. Kita yang sudah terbudaya dengan mengkonsumsi beras, pasti tak akan lari jauh-jauh dengan padi. Nah jika BBM naik, bagaimana dengan harga beras, akankah mengikuti atau tetap konsisten dengan harga saat ini.
Memang susah jika fisiologi kita sudah terpola "belum makan jika belum makan nasi". Jika melihat komposisi proksimat "protein, lemak, karbohidrat" beras, tak jauh berbeda dengan jagung, sagu, ubi jalar, singkong dan lain sebaianya. Budaya yang membentuk kita tak bisa lepas dari beras. Negeri kita yang subur makmur gemah ripah loh jinawi, sangat kecewa jika hanya padi yang di apresiasi. Masih banyak sumber makanan lain yang bisa dimanfaatkan sesuai dengan kultur masyrakat setempat. Papua dengan ubi jalar, sagu, NTT dengan jagung, dan tempat-tempat lain yang masih dengan ubi kayu "gaplel/tiwul". Bagaimana jika kultur-kultur tersebut dikolaborasikan, sehingga keanekaragaman pangan itu tercipta?.
pertanyaan sekarang adalah, apakah masrakat yang sudah sejak kecil terbiasa dengan nasi lalu harus mengkonsumsi sagu atau ubi jalar? sangat aneh sekali. Itulah masalah dengan kebiasaan yang sudah terpatri di mind set dan lidah kita. Pagi ini 28/3/2012 iku panen ubu jalar di dusun Srumbung, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Di areal sawah yang dibudidayakan tanaman yang konon berasal dari Benua Amerika tumbuh subur disini. Ubi jalar yang katanya unggul dengan varietas AC dan Nusantara tanaman di areal persawahan.
Pertanyaan menggelitik muncul, kenapa yang mustinya sawah untuk menanam padi di ganti dengan ubi jalar. Jawaban realistis muncul dari pak Kepala Dusun Srumbung Jurang "mudah ditanam, cepat menghasilkan, mudah menjual, harga lebih bagus dari padi dan menguntungkan". Tak heran jika dalam 1 hektar sawah bisa menghasilkan uang 12-24 juta dari menanam Ubi Jalar. Nilai yang fantastis, sebab bisa mendapatkan hasil 2 kali lipat dibanding dengan menanam padi. Tidak heran jika sawah-sawah di daerah tersebut beralih fungsi yang semula ditanami padi sekarang ditanami Ubi Jalar.
Tidak semua berkutat dengan Ubi jalar, namun padi tetap mendapat giliran. Usai panen padi, sawah di keringkan, lalu di bajak, di pupuk baru di tanami ubi jalar. usia tanam hingga panen berikisar 4-6 bulan, setelah itu bisa di tanamai Ubi jalar tahap yang ke-2 dan usai itu baru ditanami padi kembali. 2 jenis varietas yang dikembangkan, yakni varietas Ac yang perkilo dihargai Rp 2.500,00 dan Nusantara Rp. 2000.00. Petani juga tidak usah pusing menjual, karena tangkulak datang langsung untuk membeli dan mengangkutnya.
Menurut informasi, ubi jalar yang dibeli oleng para tengkulak akan dibawa di industri saus. Ubi jalar menjadi bahan baku utama dalam pembuatan saus, sehingga membutuhkan material dalam jumlah banyak dan kontinyu. Satu pertanyaan kembali muncul, apakah penduduk setempat yang menanam ubi jalar juga mengkonsumsinya?. Jawaban yang muncul adalah tidak, sebab ubi jalar sebagian besar di jual. Hanya beberapa saja yang dikonsumsi, sebab ubi jalar jenis ini tidak tahan lama waktu penyimpanannya.
Menamam untuk di jual dan jarang yang dikonsumsi sendiri, itulah yang terjadi. Apakah tidak ada teknologi bagaimana mengolah ubi jalar selain dibuat saus. Mungkin dibuat tepung, keripik, dodol yang intinya produk turunannya. Karena potensi karbohidrat yang tinggi bisa menjadi potensi bahan baku industri alkohol atau bio etanol. Sangat disayangkan jika, produk yang melimpah tersebut hanya masuk dalam gudang pabrik saus saja tanpa ada produk turunan lain yang nilainya mungkin bisa lebih besar daripada sebotol saus.
Tanah kita yang subur ibarat kolam susu, batu dan kayu jadi tanaman "kata Koes Plus" sangat sayang jika hasil buminya tidak bisa di apresisasi. Tugas siapa yang bisa mengubah barang yang bernilai sekilo 2000 perak bisa berkali lipat?. Banyak sekolah dan perguruan tinggi yang mampu mencetak lulusan dengan kemampuan melipat gandakan. Kolaborasikan sumberdaya alam dan manusia, pasti yakin akan jauh lebih bermanfaat dari pada pusing mikir BBM naik.
Mendekati detik-detik kenaikan BBM, seperti biasanya demonstrasi dimana-mana yang melibatkan segenap elemen masyarakat. Alibi pemerintah yang mengatasnamakan "penyelamatan APBN" dianggap mengada-ada jika mencermati analisa Pak Kwik. SUngguh lucu negeri ini dengan dagelan politik dan intelektualnya. Kembali rakyat menjadi tumbal atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, yang justru menekan rakyat hingga titik darah penghabisan.
Dampak nyata kenaikan BBM adalah ikut menyesuaikannya harga-harga dipasaran. Tak tanggung-tanggun, BBM belum naik, tetapi harga sudah mendahului naik. Kenaikan harga ini wajar-wajar saja, sebab sebagai modal saat BBM sudah naik. Trenyuh sekali disaat rakyat kecil yang tak tahu menahu urusan orang atas kini semakin tercekik kehidupannya, belum lagi buruh-buruh "OS" yang siap-siap mendapat PHK karena perusahaan juga akan mengencangkan ikat pinggang.
Apakah kenaikan BBM ini menjadi jaminan rakyat sejahtera, seperti amanat UUD45 dan Pancasila?. Apakah sekolah semakin murah, berobat gratis, hingga fasilitas umum semakin membaik?. Yang pasti pundi-pundi pejabat semakin bertambah, karena tabungan negara yang membaik. Katanya pertamina merugi sekian T, tetapi pegawainya tak ubahnya juragan minyak. Kita yang katanya kencing diatas tanah yang bawahnya timbunan minyak mentah seolah tak bisa menikmati apa-apa. Bahkan kalah dengan negara-negara yang tak memiliki sumber daya alam sekaya kita.
Alih-alih penyelamatan APBN, menyelamatkan duit rakyat yang dikemplang pejabat saja senin kemis, ibarat atlit catur suruh lari marathon. Saya mungkin tak akan ambil pusing dengan kenaikan BBM, tidak peduli dan acuh tak acuh. Percumah sepertinya dengan ikut gembar-gembor atas nama kemiskinan menolak kenaikan BBM. Dari demonstrasi, orasi, aksi teatrikal, hingga lewat tulisan dan semuanya seperti running text televisi yang hanya berjalan berluang dan timbul tenggelam.
Saya hanya mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan saja, itu adalah langkah yang terbaik daripada melakukan perlawanan yang jelas-jelas sia-sia. Saya hanya ingin membuktikan lewat rentang waktu, apa dampak positif dari kenaikan BBM?. Mengikuti konsep evolusi "survival of the fittest", bertahan hidup dengan menyesuaikan diri. Pinter-pinternya kita menyiasati keadaan dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian. Tidak mungkin setiap perubahan tidak ada kestabilan. Lambat laun pasti ada kestabilan apapun bentuknya walau harus ada yang dikorbankan.
Kita yang biasa mengalami perubahan yang dinamis, baik gejolak sektor ekonomu, politik, sosial hingga keamanan mungkin tak butuh waktu yang lama untuk mencapai kondisi yang stabil. Tak terbayangkan di negara majau yang sudah mapan, tanpa gejolak, hingga terkesan dinamika yang statis pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk stabil. Katakanlah sodara kita yang sudah hidup enak, makan kenyang, tidur hangat, semua terpenuhi dan serba kecukupan, tiba-tiba jatuh miskin dan sengsara, lantas apa yang terjadi..?. Bagi kita atau saya yang biasa hidup pas-pasan, tidak kerja tidak makan, tidak meras otak tak dapat duit, dan setiap hari ada perubahan, goncangan dan selalu dinamis, jika ada perubahan adalah hal yang biasa. Kira-kira demikian analoginya, jadi biasa hidup dinamis, maka akan tidak terlalu pusing menghadapi perubahan yang terjadi.
Bukan masalah peduli dan tidak peduli dengan perubahan, tetapi hakikat kehidupan adalah bagaimana tetap hidup. Urusan dengan orang lain, selayaknya kita sebagai "homo homini socius" yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Urusan dengan pemerintah, sewajarnya kita sebagai warga negara yang baik yang ikut mendukung setiap kebijakanya dan tetap mengkritisi. saya percaya "invisible hand" ala Adam Smith yang akan memperbaiki sistem yang tercerai berai karena adanya perubahan dan gejolak, hanya waktu yang bisa menjawab.
Konsekuensi logis dari naiknya BBM, setidaknya pemerintah harus bertanggung jawab penuh dan jangan hanya mengorbankan rakyat. Jangan seperti salah satu dinas yang membuat saya jengkel setiap kali setor duit "isi formulir, bayar, antri, laporkan dan awasi penggunaanya" lalu di cap "andalah orang bijak", walau realitanya ada yang di kemplang dan diselewengkan. Saya hanya manusia biasa yang harus tetap dinamis, revolusi hingga evolusi terjadi seiring berjalannya waktu. Tak bisa berbuat apa-apa, selain berjuang untuk menyesuaikan diri saja dan lolos dari seleksi alam.
Ada sebuah cerita, di sebuah hutan hiduplah seekor monyet dan ikan. Seperti adatnya, monyet tinggal di pohon besar dan ikan di sungai yang jernih. Mereka hidup berdampingan, bersahat dan menjadi kawan yang baiklayaknya suadara sendiri. Suatu hari, terjadi hujan lebat, sungai yang tadinya tenang kirni semakin deras dan terjadilah banjir. Dari atas pohon, monyet begitu kawatir tentang keadaan ikan. Air bah pun terjadi dan tanpa pikir panjang, monyet turun dari pohon lalu menceburkan diri ke sungai dan dengan sigap menolong ikan dari hantaman air bah. Ikan di bawa naik ke pohon untuk menghindari luapan air sungai dan mereka bersama-sama kini di atas pohon. Air bah surut dan sungai kembali tenang, namun ikan yang tadinua diselamtakan monyet keadaan kritis dan akhirnya mati karena terlalu lama keluar dari air. Tujuan monyet itu baik, tetapi cara kita kadang salah dan akhirnya hanya sesal yang ada.
Pernah berkunjung ke Rumah Sakit, walau hanya sekedar membesuk atau berobat saja..?. Memperhatikan pengunjung ada sesuatu yang menarik jika diperhatikan. Berkaitan dengan pengunjung yang membesuk pasien ada sedikit permasalahan tetapi kembali juga ke sisi humanis layaknya manusia. Apabila di rumah sakit besar yang ada di kota-kota jam besuk dan jumlah pembesuk benar-benar di atur ketat sekali, berbeda dengan rumah sakit yang ada di daerah. RUmah sakit atau puskesmas di daerah, katakanlah kabupaten, kecamatan atau desa, aturan besuk tidak terlalu dibuat ketat, walaupun ketat tetap saja pelanggaran dibiarkan begitu saja.
Di Desa Saya, ada sebuah puskesmas rawat inap dan satu-satunya yang melayani 2 kecamatan. Bak kacang goreng dalam sebuah tontonan, puskesmas tersebut laris sekali dan ada saja pasien yang rawat inap. Nah jika sudah demikian, dijamin puskesmas bakalan tidak angker seperti puskesmas jaman dahulu yang buka jam 8 pagi tutup jam 4 sore. Puskesmas buka 24 jam layaknya minimarket, dan diseiktar puskesmas sudah terang benderang dan banyak pedagang makanan minuman yang buka 24 jam pula. Suasana yang mendukung untuk kebutuhan pasien dan pengunjung.
Suatu hari berniat menjenguk tetangga yang sakit Muntaber yang harus rawat inap. Saat memasuki gerbang Puskesmas, sudah banyak pengunjung dan ramai, pertanda banyak pasien yang rawat inap. Mobil-mobil pic up "bak terbuka" sudah baris rapi di tempat parkir dan pengunjung sudah berkumpul dilorong puskesmas. Dari luar saya perhatikan, puskesmas ramai sekali dengan pengunjung yang membesuk. Tak lupa pembesuk membawa buah tangan untuk pasien berupa hasil bumi, dari buah-buah ala kadarnya hingga buah-buah impor yang dibeli dari pedagang dipelataran puskesmas.
Dari dalam dalam sebuah ruangan rawat inap yang di pakai 2 pasier terlihat riuh sekali. Busyet 2 pasien dengan pengunjung yang membludak dan bergiliran untuk membesuk. Kalau di perhatikan mirip lebaran, dimana pengunjung antri masuk, bersalaman dengan pihak keluarga lalu berpindah ke tangan pasien sambil berbasa-basi menanyakan kesehatannya, lalu duduk sebentar dan mengobrol. Pihak keluarga yang menunggu sangat senang, ada yang berkunjung dan menjenguk, lalu obrolan dimulai dari kisah pasien sebelum sakit hingga jatuh sakit akhirnya terdampar di puskesmas. cerita begitu rinci dan berulang-ulang setiap pengunjung datan dan bertanya.
Tidak lupa, makanan ringan di suguhkan diatas lembaran-lembaran tikar yang disediakan pihak keluarga. Teh atau kopi diseduh dari termos-termos untuk menjamu pengunjung sambil menjadi teman ngobrol. Mereka yang dibawah tikar begitu gayeng "asyik" ngobrol, sedang yang diatas ranjang nampak tertidur diam hanya ditemani selang infus yang menancap di lengan. Bagi pengunjung yang tak tahan dengan bau obat atau aroma khas puskesmas, maka rokoklah dewa penyelamatnya. kepulan asap membumbung di langit-langit ethernit yang berwarna putih. Tak aneh jika ruangan puskesmas kini beraroma tembakau dan kemenyan. Tanda larangan merokok tak ubahnya anjuran cuci tangan sebelum makan dan berlaku "sunnah". Pengunjung tak henti-hentinya berdatangan, sebab di kampung saya jika ada salah satu anggota keluarga, maka satu RT, tetangga, sodara dekat, sodara jauh, kolega, teman dan siapa saja yang kenal pasti menjenguk. Inilah hebatnya kampung saya, sisi humanis yang begitu besar disaat ada yang tertimpa musibah.
Lupakan sejenak tentang begitu guyupnya "kebersamaan" orang kampung terhadap mereka yang malang. Akhirnya saya tinggal di kota besar karena pekerjaan dan jauh dari peradaban kampung dan mengharuskan untuk segera beradaptasi. Suatu hari teman satu kantor jatuh sakit dan harus rawat inap. Dia di diagnosa kena hepatitis, sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang fungsi hati. Seperti biasa layaknya dipuskesmas saat dikampung, maka sewajarnya menjenguh. Baru sampai pintu gerbang ada tulisan "jam besuk 10-12 dan 16-18". Saptam yang berjaga dengan tampang galak berjaga di pintu masuk yang astinya menolak pengunjung karena belum jam besuk.
Niat hati kerja setengah hari langsung menjenguk, sampair di rumah sakit pukul 13.00, artinya harus menunggu 3 jam untuk bisa menjenguk teman. Apa boleh buat, negosiasi dan kompromi harus di lakukan demi bisa menjenguk teman. Dasar mental kampung, akhirnya bisa tembus juga dari penjagaan satpam, karena berasalan "teman butuh uang untuk nebus obat sepatnta, dan ini saya yang bawa uang dan harus segera kembali kerja". Akhirnya sampai juga di ruang dia dirawat inap dan kali ini sepertinya mustahil untuk ditembus. Ruang isolasi, karena berurusan dengan virus yang menular lewat media apa saja jadi berpikir untuk masuk.
"dok..dok..dok..." hanya lewat ketukan di kaca saya memberi isyarat dan hanya dibalas lambaian tangan tak berdaya. Saya tahu diri, dia butuh istirahat banyak dan perawatan intensif. Tak terbayang jika dia dirawat di puskesmas di kampung saya, dengan pengunjung yang bebas masuk keluar, merokok, makan minum, bercanda, ngbrol ngalor ngidul. Saya kira potret puskesmas di kampung saya tak berbeda dengan daerah-daerah lain. Jika saya melihat film-film barat, mereka yang membesuk sepertinya hanya ala kadarnya dengan membawa karangan bungan atau hanya setangkai bunga, dan tak berlama-lama lalu pergi. Memang mind set, budaya masing-masing tempat berbeda.
Puskesmas atau rumah sakit mengadopsi dunia barat dengan pengobatan modern, namun tidak disertai dengan gaya barat saat berkunjung atau menjenguk. Saya hanya berpikir, nyamankah pasien yang dijenguk banyak orang, diajak ngobrol, bercanda atau doa ramai-ramai. Bisa saya istilahkan ruangan rawat inap layaknya acara kumpul keluarga dan silaturahmi. Budaya, kekeluargaan, dan sisi humanis terkadang menjebak kita menjadi monyet-monyet yang menyelamatkan ikan yang terendam air banjir. Tujuan kita memang kadang baik, tetapi terkadang cara kita kurang tepat. Bayangkan saja, orang sakit muntaber di kasih buah-buahan, jangankan makan mungkin melihat saja mau muntah dan berak-berak. Mungkin dengan mengubah "mind set" kita, bisa mendukung penyembuhan pasien lebih cepat. Dalam istilah geografi, ada pembeda untuk Kota, Desa, Kampung, Dusun. Istilah-istilah tersebut digunakan dalam pemetaan untuk mempermudah membedakan antar wilayah berdasar fungsi administratifnya. Lain halnya jika kelaur dari geografi, maka istilah kota, kampung, desa sudah bermakna lain bahkan menimbulkan perbedaan yang menjurus pada diskriminasi, strata sosial hingga marjinalisasi. Mungkin kita biasa teriak ''dasar kampungan'' atau Tukul Arwana dengan lawakannya ''Wong nDeso''. Kampungan dan nDeso, identik dengan daerah pinggiran, dan pola pikir dan tingkah laku penduduknya yang dibawah peradaban orang kota.
Apakah demikianya kenyataannya? jika wong nDeso dan Kampung identik dengan keterbelakangan. Masih ingat perseteruan Marissa Haque dengan Dee Djumadi Kartika gara-gara disertasi Marissa?. Perseteruan dua orang tersebut juga menyeret Memes dan Suaminya, tak ketinggalan juga anaknya ''Kevin Aprilio''. Perang mereka cukup unik karena dikawasan yang orang lain bisa melihat. Lewat situs jejaring sosial ''twitter'', mereka saling berkicau dengan lawakan perselisihannya. Dari kicauan mereka ada satu istilah yang meledakan dan menjadi kata mutiara ''Kamseupay''.
Kamseupay awalnya ditulis oleh Marrisa di blognya untuk menuliskan kemarahannya terhadap Dee Djumadi dan mengaitkan dengan 3 artis laiinya. Kamseupay ''Kampungan Sekali Udik Payah'' sebuah ungkapan untuk melampiaskan kemarahannya. Menjadi pertanyaan, apa salah Kampung, Udik yang berperan sebagai katan benda tiba-tiba menjadi kata sifat. Ada apa dengan kampung atau udik, apakah orang kampung itu udik dan payah sekali?. Jika dikaitkan dengan saya yang tinggal di kampung dan kadang di cap sebagai orang udik, sebab tiap lebaran banyak yang mudik ke kampung saya, jelas agak risih mengatasnamakan ''kampungan'' dengan ''payah sekali''.
Analoginya begini, tak asing di telinga kita ''tukang becak'' selalu identik dengan ini itu dan semua yang buruk-buruk. Becak biang kemacetan, becak sumber kesemrwatuan, dan tukang becak adalah kambing hitamnya. Apa tidak kasihan, sudah hidup susah, kerja narik pedal, dapat makian dan jadi kambing hitam. Andaikata dijalanan tidak ada becak apakah sudah ada yang menjamin bebas macet, semrwaut dan kemiskinan?. Bagaimana dengan pejabat yang tiap hari jalan dikawal dengan mobil-mobil patroli yang seenak usus makan jalan, dan diikuti bawahahnya dan mereka yang ikut-ikutan menyalakan lampu sein bersamaan, nyatanya jadi biang macet juga. Bagaimana juga dengan supir-supira nagkot yang ngetem seenak udelnya sendiri-sendiri hingga orang-orang kaya yang naruh mobil sesuka hatinya. Masih mau menyalahkan tukang becak? beri mereka pekerjaan yang layak baru salahkan.
Tidak begitu jauh dengan mereka yang menyatakan ''kampungan'' yang sepertinya melecehkan sifat-sifat orang kampung beserta pola pikir dan tindakannya. Kalau boleh saya bertanya dikampung ada yang menghuni sel tahanan KPK tidak?, dikampung ada maling uang rakyat tidak? dikampung ada koruptor tidak?, jawaban saya ''mungkin ada tetapi masih kalah dengan mereka yang tinggal di kota''. Banyak orang besar dan benar di negeri ini yang dari kampung. Dikampung masih ada toleransi, ketulusan, keramahan, saling menghargai, gotong royong, apakah mereka yang berkata ''kampungan'' mau turun untuk ngerondak kompleks perumahannya dan kerja bakti?.
Apa maksud menyebut ''kampungan, udik, wong ndeso'', tanpa mereka anda-anda dijamin kelaparan. Dari desa, kampunglah nasi yang anda makan, dari sanalah makanan dimeja makan bisa anda santap. Disanalah produk-produk dari kota didistribusikan, yang acapkali dengan omongan penuh gombal dan tipuan dalam jurus marketing. Masih berani menyebut nama kampung dengan sembarang?. Anda yang duduk jadi pejabat, suara orang kampung yang banyak anda tipu dan kasih angin surga ikut membawa anda jadi orang nomer satu, ingat itu?. Apakah tidak ada kata lain selaian ''kampungan, udik, wong ndeso'' untuk melampiaskan kemarahan, mengumpat akan kebodohan atau mencibir seseorang yang terbelakang?.
Mungkin bagi kita yang merasa terdidik dan terpelajar, sangat tak layak jika mengumbar kemarahan dengan cara yang tidak baik. Mungkin tanpa sadar kata itu terucap, tetapi apakah terpikirkan jika kata tersebut didengar mereka yang benar-benar mencermati setiap kata dan makna. Sangat disayangkan, kampuseupay itu meracuni mereka yang tidak mengerti makna dan efeknya. Lampiaskan kemarahan dengan cara yang benar dan positif daripada harus berkoar-koar dihalaman dunia mayanya yang menimbulkan permasalahan bagi orang lain, atau memang itulah caranya menulis disertasi?. Kalau tidak merasa dirinya lebih dari kamsepupay ya perbaiki orang-orang kampungan yang udik agar tidak kampungan sekali udik payah.
Kata guru saya, ada 3 hal yang paling beliau benci ”terlambat, mengantri dan menunggu” dan saat ini masih terus teringat. Saya kira kita mengamini juga apa yang menjadi kebencian guru saya tersebut. Siapa yang bisa menerima sesuatu yang terlambat, atau berdiri berlama-lama mengantri, hingga senndirian duduk termangu menunggu. 3 hal yang paling membosankan, dan banyak dijauhi orang. Banyak orang yang tidak suka dengan yang namanya terlambat, mengantri dan menunggu, tetapi tidak sedikit yang menjadi pelakunya. Ada solusi jika tidak ingin terlambat, menunggu dan mengantri ”datang lebih awal atau tepat waktu”. Jika kita bisa mensiasati waktu, maka 3 hal yang menjengkelkan bisa kita hindari bahkan tidak ada sama sekali. Memang kata orang bijak ”indah pada waktunya”, tetapi apakah dari waktu kita bisa berpasrah dan berserah diri?, tentu tidak. Waktu kita bisa mainkan, negosiasikan, tetapi tidak bisa kita buat lebih cepat, lambat. 3 tahun menjadi pelajar SMA adalah pengalaman luar biasa selama hidup saya. Sekolah di SMA favorit dengan tingkat kedisiplan tinggi adalah tantangan bagaimana agar tidak terlambat, mengantri surat ijin masuk dari guru BK dan menunggu jam pelajaran ke-2 baru boleh masuk. Sungguh penyesalan luar biasa disaat hendak masuk pintu gerbang dan satpan sudah meniup peluit bersamaan suara bel tanda masuk dan otomatis gerbang ditutup. Negosiasi dipintu kecil lewat jendela Satpam agar bisa masuk, lalu bersilat lidah didepan guru BK dengan berjuta alasan klasik, dan jika berhasil harus menunggu sambil mengayunkan kemucing di rak-rak buku perpus sebagai hukuman tambahan. Bangun jam 04.30 adalah hal yang wajib jika menarik garis aspal dari sekolahan hingga rumah yang berjarak 15km. Bukan masalah jarak, tetapi bagaimana menerjemahkan jarak lewat tindakan agar tidak terlambat sekolah. Jalan kaki sekian ratus meter dari depan rumah, lalu menunggu bus sambil berharap cemas. Pikiran kalut, kacau, cemas, kawatir bercampur jadi satu disaat bus yang ditunggu tak kunjung datang. Pukul 06.05 adalah jam terakhir bus lewat, jika 10 menit kemudian belum lewat maka sudah alamat terlambat atau tidak usah masuk sekalian daripada urusannya panjang. Alternatif terakhir adalah mbonek, biasa kami menyebutnya begitu yakni dengan menumpang kendaraan apa saja yang penting sampai sekolah. Perjuangan sekolah tak semata-mata dengan peljaran, test, hingga ujian nasional, tetapi ujian sesungguhnya adalah bagaimana datang ke sekolah dengan selamat dan tidak terlambat. Bagi anak-anak kampung seperti saya, dengan transportasi yang sangat minim, maka yang paling menantang adalah saat berangkat sekolah. Kami rela bergelantungan di pintu bisa yang sudah penuh sesak dan berjalan miring. Kami rela duduk dan bertaruh nyawa diatas bis disaat pintu bis tidak ada lagi tempat pegangan dan kaki berpijak. Kami juga rela satu bak dengan truk-truk yang mengangkut hewan ternak. Lupakan sepeda motor, bagi kami itu adalah barang mewah dan yang punya hanya anak pak lurah. Sampai sekolah dengan selamat dan tidak terlambat adalah prestasi yang bisa dikatakan melebihi juara kelas, sebab untuk menjadi rangking 1 adalah tidak boleh terlambat, antri di guru BK dan menunggu sambil dihukum bersih-bersih perpus. Tidak sedikit dari kami yang menjadi korban dari sebuah perjalanan. Jatuh dari pegangan di pintu bus adalah hal yang biasa, atau terseret gara-gara tak siap saat bus berjalan. Badan bau keringat, baju kucel adalah konsekuensi logis dari berdesak-desakan dalam lorong bis yang pengap. Inilah perjuangan dan pengorbanan agar tidak terlambat, mengantri dan menunggu. 3 tahun dengan rutinitas bergelantungan di pintu bus, berdiri di bak truk dengan sapi-sapi yang melenguh atau domba, kambing yang berisik. Setiap pagi kami berjudi, tebak-tebakan dengan penuh harapan agar bus datang dan bisa mengangkut kami. Jika jam menunjuk angka 06.15 kami masih berdiri, keputusan besar harus segera di ambil ”alpa” atau maju terus dengan resiko ”terlambat, mengantri dan dihukum”. Masa-masa yang berkesan dan terus terkenang hingga saat ini. Karakter disiplin, datang lebih awal dan tepat waktu begitu tertanam kuat sejak dibangku sekolah. Kini baru merasakan, betapa menyiksanya jika berada ditengah-tengan mereka yang seenkanya bermain dengan waktu. Mari datang lebih awal dan tepat waktu, agar terhindar dari terlambat, mengantri dan menunggu. Begitu berharganya waktu, maka hargailah. Masih ingatkan ''program penanaman sejuta pohon'' atau yang ekstrim semiliar pohon. Sebuah program mulia dalam rangka konservasi lingkungan. Menjadi pertanyaan sekarang, berapa miliar tanaman yang hidup, atau berapa juta yang bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Ibarat kata, menanam pohon adalah mudah, tinggal gali tanah, buka bungkus polybag, benamkan akar pada lubang dan timbu, selesai perkara. Tetapi apakah sampai disitu saja?. Tanaman tak beda jauh dengan bayi yang lahir, dan butuh perawatan dan perhatian pada masa pertumbuhannya dan setelah cukup umur baru di lepas.
Saya tidak yakin, penanaman seribu atau semiliar pohon itu memang benar sebanyak itu yang ditanam, dan hanya sebuah makna simbolis yang hiperbolik semata. Mungkin setengah atau kurang dari sejuta atau semiliar yang ditanam, namun berapa yang hidup coba?. Katakanlah kalau mau realistis, program penanam dan perawatan seratus pohon, jauh lebih bermakna dari pada semiliar pohon dan yang hidup cuma seratus batang. Yang itu mungkin seremonial-seremonial konyol belaka dan dagelan lingkungan. Tidak usah muluk-muluk menghijaukan lahan orang atau negara, yang jelas itu tidak mutlak tanggung jawab kita. Alangkah baiknya jika benar-benar ingin bertanggung jawab, mulailah dari halaman kita masing-masing, baru ke cakupan yang lebih luas. Penanaman seratus, sejuta, semiliar tak ubahnya lahan bisnis empuk bagi penyedian bibit, pemerintah dan oknum-oknum yang mengambil kesempatan dan kesempitan. Urusan keberhasilan, belakangan, yang penting tanam dulu, kira-kira begitu jika berandai-andai.
Saya yakin banyak yang tahu apa itu ''bio pori''. Sebuah lubang buatan ditanah, berbentuk lingkaran dengan diameter 10-15cm dan kedalam 20-30cm. Lubang tersebut kemudian di isi dengan seresah daun, makanan sisa atau material organik dan dbiarkan membusuk. Efek positif pada ''bio pori'' adalah menambah hara tanah, proses dekomposisi alami, menyimpan air, memberi napas pada perakaran, dan menjadi habitat hewan dan jasad renik. Sekarang menjadi trend dimana-mana, ada tanah kosong kasih lubang langsung di isi sampah. Salah satu cara yang baik terhadap lingkungan.
Ada satu lagi sistem yang bekaitan dengan konservasi lahan yang acapkali tak disadari namun besar sekali manfaatnya. Teknologinya mirim dengan biopori, tetapi ini lebih besar ukuran dan dimensinya. Teknologi tersebut dinamakan ''rorak''. Nama yang tak asing bagi mereka yang berkutat dengan pertanian dan kehutanan, karena menjadi andalan dalam konservasi lahan dan perbaikan nutrisi.
Rorak adalah lobang galian dengan ukuran panjang 100cm, lebar 50-60cm dan dalam 50cm. Prinsipnya sama dengan rorak yakni untuk menampung sisa-sisa tanaman, seperti gulma, daun hasil pangkasan atau seresah daun. Rorak sudah dipakai sejak jaman penjajahan Belanda, terutama di perkebuanan kopi, cokelat dan teh. Memang secara sepintas tak ada yang istimewa, tetapi dilihat dari kaca mata lingkungan, rorak adalah pahlawan bagi air dan tanah.
Rorak berfungsi sebagai media penyerapan air, yakni air hujan akan ditampung dalam kubangan dan secara pelan akan diserap. Sedangkan lahan tanpa rorak, air hujan tidak terserap maksimal dan banyak yang terbuang, dan acapkali membawa material organik yang subur. Parahnya lagi aliran permukaan yang melebihi daya dukung lingkungan, akan berakibat erosi lahan. Rorak akan menjadi tempat penampungan air, menyerap dan menyimpannya, sehingga kuantitas air tanah bisa ditingkatkan.
Menjadi habitat fauna tanah dan jasad renik. Gulma hasil penyiangan, daun hasil pangkasan akan di dekomposisi atau dihancurkan oleh mahluk-mahluk penghuni tanah. Lebih kompleks lagi, material organik tersebut akan diuraikan menjadi pupuk yang subur dan bermanfaat bagi tumbuhan. Adanya fauna tanah dan jasad renik menjadi indikator tanah yang sehat, sebab tanah tersebut kaya akan makanan.
Rorak yang telah penuh dengan sampah tumbuhan, kemudian di timbun lalu berpindah dengan membuat lubang di sekitarnya. Artinya sampah yang membusuk akan menjadi humus, material yang subur berupa kompos. Nah jika tanah sudah subur, maka tak perlu dilakukan pemupukan, sehingga hemat. Tanah juga akan meningkat tingkat kesuburannya, sehingga kwalitas tanah semakin membaik.
Membuat bio pori, atau rorak adalah sebuah langkah kecil dan sederhana, tetapi menjadi lompatan bagi konservasi tanah dan air. Kalau disadari bio pori dan rorak, sangat besar manfaatnya, bayangkan saja, berapa banyak air yang terserap dan disimpan, berapa banyak mahluk hidup yang tinggal, berapa besar material organik yang baik untuk tanaman. Tanpa disadari, langkah kecil tersebut akan semakin bermakna bagi lingkungan jika diterapkan banyak orang. Lahan tak subur, lahan kritis, kekurangan air, banjir, erosi, kelangkaan pupuk, bingung buang sampah organik, hanya menjadi masa lalu jika kita benar-benar mau bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dimulai dari halaman, kebun, ladang baru ke lahan yang lebih luas. Langkah kecil kita adalah lompatan besar bagi lingkungan. Buat kita yang mempunyai gadget tua, seperti ponsel saya nokia 9300 p bersiap-siaplah untuk mengucapkan selamat tinggal di daerah perkotaan. Ponsel yang dulu dengan banyak fitur, kini harus ditelan oleh perkembangan teknologi dan harus tersingkir seiring waktu. Ponsel pintar, karena sering saya pakai untuk mengetik artikel dan mengunggah di internet sekarang sekarat tak berdaya. 7 tahun sudah menemani jemari ini menari diatas papan tombolnya, sekarang harus tahu diri.
Ceritanya begini, sebulan terakhir ini sangat susah mengakses internet menggunakan ponsel tersebut. Berbagai cara dilakukan agar bisa terhubung, tetap saja tidak tersambung. Dari mulai cek pulsa, ganti sim card, hingga setting dipengaturan, tetap saja tak bergeming. Padahal dengan ponsel lain, akses internet lancar jaya. Jika terkoneksi biasanya untung-untungan, itupun tengah malam atau menjelang subuh. Akhirnya menyerah dan tanya di komunitas dunia maya dan berselancar di rumah mbah dukun google.
Akhirnya jawaban muncul juga, usut punya usut ternyata masalah sinyal saja. Ponsel jadul koneksi internet masih menggunakan GPRS, sedang di kota sebagian besar sudah 3G dan HSDPA. Sebuah saran dari seorang teman ''kalao mau ng-net menjauhlah dari kota'', saran yang bijak sepertinya. AKhirnya memutuskan mudik, pulang rumah di lereng gunung. Sinyal di rumah memang senin kamis, kalau skala lima paling hanya muncul 2-3 batang, kalau sedang 4 batang.
Sepanjang perjalanan dengan naik bus, tangan mencoba menulis apa yang terlintas dipikiran dan menuangkan dalam tulisan. Riuh ramai penumpang bus yang sebagian besar anak sekolah yang terheran-heran melihat HP lipat jadul saya. Akhirnya sampai juga di emperan rumah, dan duduk di teras halaman. Opera mini langsung di buka, menuju bookmarks dan masuk dalam laman yang dituju. Ajaib, hanya beberapa detik langsung tersambung bahkan lebih cepat atau berani di adu koneksinya dengan ponsel paling canggih saat ini.
Tanpa basa-basi, halaman di pengolah kata langsung ctrl A, lalu ctrl C pindah dilaman web yang mau di unggah dan ctlr V. Sunting sana-sini dan akhirnya enter [upload] dalam hitungan detik tulisan saya sudah di dunia maya. Ponsel jadulku kembali berjaya, walau harus tersingkir dari kota. Koneksi internet lancar jaya, bahkan ponsel 1nya yang fiturnya 3G, HSDPA mulai sesak napas, karena yang muncul hanya EDGE dan GPRS. Kembali nokia 9300 berjaya walau harus menyingkir ke pelosok-pelosok.
Ini hanyalah kesimpulan saya yang tak tahu menahu seputar teknologi informasi. Kesimpulan dari beragam opini teman-teman yang mendengar keluh kesah seputar ponsel jadul yang sekarat. Rangkuman dari informasi google yang mencoba tari menarik benang merahnya. Jika kesimpulan saya ini tak benar dan tak masuk akal, mohon pencerahan dari yang lebih paham dan tahu. Saya hanya ingin memanfaatkan sebuah teknologi semaksimal mungkin untuk bekerja dan berkarya.
Tanpa mengurangi rasa hormat, 80% tulisan saya di dunia maya berasal dari ponsel jadul ini. Setiap artikel tanpa gambar, dari sinilah berasal, karena ponsel ini selalu menemani dalam setaip perjalanan. Setiap saat ada ide, inspirasi, langsung ketik, sunting dan unggah ke dunia maya. Mungkin di kota dia hanya bisa menampung kegundahan hati saya, tetapi saat di desa dia bisa melayani saya menuju dunia maya. Andrea Hirata boleh membanggankan ayahnya sebagai juara nomer 1, tetapi saya akan berkata ini ponsel juara pertama. Semoga berkenan.... Jika hukum kekekalan energi yang mengatakan ''energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan'' masih berlaku, maka tidak ada krisis energi. Energi bersifat kekal, jika merujuk pada hukum kekekalan energi, namun energi bersifat fleksibel. Energi bisa berubah bentuk, dimainkan, disimpat, dikumpulkan, diledakkan dan terserah mau diapakan. Energi hanyalah sebuah siklus yang selau berputar, berubah dan berpindah saja. Jika ada yang mengatakan kehabisan energi, krisis energi, itu hanyalah hitung-hitungan untung rugi secara ekonomi belaka.
Jika dibilang saat ini kita krisis energi, sebenarnya tidak juga. Banyak energi yang tersimpan, namun kita tidak bisa membangkitkan, mengubah, mengatur dan memanfaatkannya. Tidak usah muluk-muluk berbicara energi nuklir, panas bumi, atau air terjun, ternyata disekitar kita banyak tersimpan energi yang besar tanpa kita sadari. Matahari yang terik acapakali menjadi bahan caci maki yang takut panas, kulitnya hitam, tetapi jika sedikit bersahabat dengannya akan lain cerita.
Mereka yang mencaci maki matahari kadang tak sadar, mereka barusan makan apa?. Makanan yang mereka makan, tanpa ada matahari, itu mustahil. Apa yang mereka hirup saat bernapas itu juga karena matahari. Tumbuhan dengan bantuan matahari bisa berfotosintesis dan bernapas, hasilnya adalah nutrisi dan oksigen. Artinya apa yang kita makan dan hirup, matahari andil besar dalam sintesisnya. Usai mamaki matahari lalu masuk keruangan sambil menyalakan pendingin ruangan, lalu mandi air hangat, tanpa sadar diatas rumah ada panle tenaga surya ''solar cell''.
Siapa mahluk hidup yang tidak buang hajat, atau sisa metabolisme?. Apakah sisa metabolisme itu benar-benar sisa dan tidak berguna sama sekali?. Ternyata sisa metabolisme, mungkin dari hewan disebut tinja, masih memiliki kandungan energi yang tinggi. Di Jepang, baru saja ada yang menemukan makanan dari hajat, mungkin bagi kita masih menjijikan. Jika dilihat dari konteks sains, didalam tinja, energi yang terkandung masih luar biasa banyaknya. Bio Gas adalah salah satu wujud perubahan energinya. Uap dari tinja, berupa gas-gas yang mudah terbakar bisa menjadi alternatif disaat ada kelangkaan BBM dan BBG. Nah andaikata septic tank dibangun menjadi reaktor bio gas, berapa banyak penghematan anggaran dapur.
Nah andaikata kita lapar, tentu akan lemas, artinya kita kekurangan stok energi. Energi kita dari apa? tentu saja makanan dan minuman. Sumber utama energi dalam tubuh adalah karbon. Karbon biasa kita peroleh dari karbohidrat dan lemak. Menjadi pertanyaan sekarang, untuk mendapatkan karbon sebagai sumber energi sumbernya dari karbohidrat dan lemak, sehingga makanan yang mengandung dua unsur tersebut adalah sumber energi. Jika ditanya, makanan apa saja yang mengandung karbohidrat; singkong, gadung, uwi, gembili, sagu, ubi, jagung, umbi-umbian dan masih banyak lagi. Sedangkan makanan yang banyak mengandung minyak; sebut saja kelapa.
Nah lidah kita sebagian tidak familiar dengan sumber makanan tersebut sebagai sumber energi. Lidah kita cenderung manganut budaya yang lumrah; makan beras, kentang, roti, gandum dan lain sebagainya. Masih jarang yang memanfaatkan sumber energi diatas sebagai makanan alternatif, padahal kandungan energinya tak beda jauh dengan beras dan gandum. Hanya urusan rasa dan selera yang membatasi kita untuk mendapatkan energi. Mau bertaruh, besar mana energi roti dan sagu?, coba saja makan sepotong roti lalu beradu lari dengan sodara kita dari papua yang mengkonsumsi sepotong ubi atau sagu. Mau tahu lebih lanjut, buktikan di laboratorium saja.
Memanen energi yang melimpah, namun kita tak berdaya. Banyak sungai berarus deras hanya menjadi obyek wisata dan hanya membangkitkan ekonomi, padahal banyak energi tersimpan disana. Limbah septic tank seolah barang menjijikan, namun didalamnya ada energi yang luar biasa. Negara kita sebagai negara tropis yang dengan pancaran sinar matahari penuh, sayang tidak bisa kita panen, namun acapkali hanya kita caci maki saja. Budaya makan nasi, seolah teriak kelaparan padahal banyak umbi-umbian yang tersia-siakan. Kita kaya energi, namun mampukah kita membangkitkan, mengendalikan dan memanfaatkannya, atau malah mencacinya dan berteriak ''kita krisis energi''. Ingat, hukum kekekalan energi masih berlaku. Petani tak bedanya dengan penjudi yang selalu bertaruh dengan musim dan panen. Yang membedakan, penjudi dengan uang, tetapi petani modalnya dari uang, peluh keringat, harapan dan tanggungan kehidupan. Siapa juga yang mau menjadi petani, enakan menjadi pegawai negeri. Sektor pertanian adalah modal utama kehidupan, tanpa mereka dijamin kelaparan, tetapi mengapa sektor vital ini acapkali jadi permainan, bahkan dimusuhi.
Petani, dari namanya saja pasti identik dengan lahan, cangkul, sabit, traktor, konvensional dan bodoh. Memang tidak munafik, karena hanya sedikit petani yang pinter, andai kata pintar gak mungkin juga mau jadi petani. Pertanan dan petani adalah lahan yang subur untuk bisnis dibalik gersangnya lahan dan harapan panen dibawah awan mendung. Lagi-lagi petani harus bertaruh dengan musim dan kaum-kaum kapitalis, dan sudah dijamin, petani bakalan kalah.
Dulu, sistem ''pranata mangsa'' penanggalan musim yang dibuat nenek moyang kita begitu ampuh dalam menentukan masa bercocok tanam. Bagi petani di Jawa, keluarnya ''bintang luku'' menjadi pertanda musim tanam tiba. Bintang yang berada di rasi Orion tersebut disejajarkan dengan telapak tangan yang ada bulir padi. Jika bintang tersebut rendah dan bulir belum jatuh, maka belum waktunya tanam. Apabila bulir tersebut berhatuhan, maka sudah waktunya tanam. Penanggalan tersebut jika dikonversi ke penanggalan masehi, jatuh sekitar bulan januari.
Begitu juga dengan pranata mangsa, seperti mangsa kasiji ''ke satu'', kaloro''kedua'' dan seterusnya. Untuk beberapa tanaman tertentu ditanam pada waktu-waktu tertentu, sehingga menjadi standar baku dalam musim tanam. Kenyataan sekarang, standar tersebut sudah tidak baku dan banyak meleset. Jika pranata mangsa jama dulu dengan perhitungan bisa dikatakan tepat, sekarang bisa melenceng tidak karuan. Perubahan iklim dan gerak presisi matahari yang lambat laun berubah tanpa diiringin perubahan pranata mangsa. Akibatnya petani yang masih memakai penanggalan tersebut bisa melenceng perkiraannya.
Musim yang tak jelas, bencana dimana-mana, dan faktor lingkungan yang lain menjadi perjudian petani dengan alam. Menanam secara spekulasi, berdasarkan kebiasaan dan masalah untung rugi urusan belakangan. Memang alam tidak bisa diprediksi dan petani adalah penjudi-penjudi ulung dengan taruhan yang besar. Bolehlah, petani modern memanfaatkan rumah kaca yang tak kenal musim, tetapi petani gurem tetaplah berserah pada alam ini, dan berharap ada keberuntungan berpihak.
Usai berjudi dengan alam, kini bermain dengan industri pertanian yang dipegang kaum kapitalis. Dari mulai pupuk, pestisida, fungsida, mulsa, hingga bibit semuda adalah lahan bisnis yang sangat subur. Harga produk pertanian sepenuhnya dipegang oleh mereka yang menguasai petani dari sektor pupuk, bibit, pestisida dsb. Petani kembali berjudi dengan penantang kaum kapitalis, jika petani menang dan panen bersiap berjudi lagi dengan tengkulak-tengkulak yang tak kalah mahirnya berjudi.
Dulu, waktu saya kecil membantu bapak untuk membuat benih cabe, terung, tomat dsb. Dari mengupas biji, mencuci, menjemur hingga menyemai menjadi tanaman baru lagu yang siap tanam. Sampai-sampai saat buat bibit cabai, dijamin mata ini pedih dan nangis usai kencing ''imajinasikan sendiri'', karena semua dikerjakan manual dengan tangan. Saat ini petani sudah duduk manis saja, karena bibit-bit unggul sudah tersedia dipasar dengan harga bervariasi. Tidak jamannya lagi buat bibit sendiri, tetapi tinggal beli atau pesan dari petani penyemai.
Bibit yang dipasaran, sungguh hebat disainnya. Menurut saya, bibit tersebut adalah bibit mandul. Mengapa demikian..? bibit yang disemaikan adalah F1 atau turunan pertama dari induk aslinya, nah saat ditanam dan berbuah yang menghasilkan biji F2 atau cucu dari induknya sudah tidak bisa ditanam. Apabila bisa ditanam dan tumbuh, hasil dari benih F2 jauh menurun kualitas dan kuantitasnya dibanding F1. Itulah akal-akalan perusahaan pembenihan, karena mau tidak mau petani harus kembali untuk membeli bibit F1 yang harganya makin lama makin mencekik. Disaat ada seruan anti GMO ''genetic modified organism'' petani sudah diserbu dengan produk-produk yang didisain demikian.
Usai dipermainkan dengan bibit, harus bertarung dengan kelangkaan pupuk dan mahalnya obat-obatan. Jika kedua masalah tersebut bisa diatasi, harus berjuang lagi saat panen, dimana saat panen raya dijamin harga anjlog. Disaat panen tanpa ada pesaing dijamin akan menjadi bulan-bulanan tengkulak nakal. Alih-alih bermain di koprasi yang menjamin kestabilan harga, tetap saja sengsara karena harga stabil diangka terendah. Memang petani tetaplah petani yang harus menerima kenyataan menjadi ladang permaian alam dan kaum kapitalis.
Berapa banyak sekolah pertanian, perguruan tinggi jurusan pertanian, dimanakah meraka, apakah sudah turun ke lapangan atau sibuk mempersiapkan berkas-berkas untuk mendaftar CPNS. Memang idealisme bapak saya yang seorang petani ''sekolah yang tinggi biar tidak jadi petani''. Apakah ada orang tua ''jadilah petani yang hebat'', sangat susah menemui, tetapi saya tetap berkeyakinan. Petani adalah orang yang mulia, dari keringat, kebodohan, kepolosan dan perjudian mereka kita bisa hidup, makan dan kenyang. Gemah ripah loh jinawi, negeri ini, tetapi tak ada yang mau jadi petani, penginnya jadi pagawai negeri. Awal bekerja sebagai orang kantoran sungguh pengalaman tak terlupakan. Ruangan besar, bersekat-sekat, hilir mudik orang, suara printer dot matrik yang membuat telinga gatal hingga tingkah polah karyawan yang frustasi. Dalam hati, "ini tho kantor yang nantinya jadi habitat saya seharian". Akhirnya dapat satu meja kerja paling pojok, dan tepat dibawah guyuran suhu dingin AC yang dingin. PArah lagi, meja tersebut tepat disamping jendela yang kalau pagi luar biasa panasnya. Belum lagi dengan hilir mudik karyawan yang ke toilet, karena persis disamping toilet. Memang tempat ini sepertinya di jauhi karyawan lain, karena tempatnya yang tidak strategis dan nyaman.
Meja kayu berwarna cokela itu melongo melihat saya yang tidak tahu harus ngapain disana. Tak ada satupun benda kantor yang ada diatas meja, demikian juga dengan laci-lacinya. Tak ada satupun warisan yang ditinggalkan oleh karyawan lama yang entah pindah kemana dari tempat terkutuk ini. Hanya meja bulukan dan kursi reot ini yang tersisa, itu saja ada nomer inventaris kantor, coba kalo tidak ada, pasti ikut raib dengan tuannya.
Hari pertama adalah setting meja kerja, tidak urusan orang lain mau melihat apa, yang penting nyaman dulu. AC yang dingin memang sudah tidak bisa di ganggu gugat, buat mereka yang menginginkan kenyamanan. Tak apalah demi orang lain, saya rela pakai jacket. Urusan jendela panas, nikmati saja sebagai vitamin D gratis dan murah meriah.
Akhirnya dapat juga properti layaknya kantoran. Seperangkat PC terbaru, kabel internet, dan peralatan tulis menulis yang masih plastikan. Kata juragan, minggu pertama belum ada pekerjan tetapi untuk adaptasi dulu. Nikmatnya nganggur di bayar, game on line gratis, down load sepuasnya, dan terserah mau ngapain.
Seminggu berlalu, berganti bulan dan tahun, akhirnya meja ini penuh dengan buku dan kertas-kertas. Dulu karyawan lain yang tak saling kenal sudah menjadi akrab. Dulu mereka yang acuh tak acuh kini tetap auh tak acuh jika melihat meja kantor saya. Berantakan, kertas berserakan, alat tulis bertebaran dan dining penuh dengan tempelan, tak lupa PC menyala seharian.
Pernah suatu kali petugas kebersihan menawarkan diri untuk bantu-bantu merapikan meja yang seperti bantar gebang. Dengan halus saya tolak "jika mBak Sum rapiin meja, saya butuh waktu lama untuk berantakin semua isi meja, mohon jangan sentuh apapun yang ada di meja". Saat juragan besar datang, sempat kena teguran "meja kok tidak teratur, seperti pemiliknya saja", "boss meja dan pemilik boleh tidak teratur, tetapi otak dan hasil pekerjaan saya teratur kan? apalagi pas ambil gaji dan kas bon".
Meja memang berantakan, bukan masalah karena enggan merapikan, tetapi itulah pekerjaan. Tiap saat harus memantau produksi pabrik, sewaktu-waktu harus siap dengan komplain dari juragan, tak dinyana-nyana ada yang minta informasi material produksi itu semua yang membuat serba berantakan. Kertas berisi data-data harus ada di depan mata, buku manual setiap saat harus terbuka buat berjaga-jaga, stok material harus tertempel di dinding, dan target produksi selalu tersenyum manis di depan PC.
Andai tidak berantakan, mungkin akan bingung mencari file-file yang tersimpan di folder lemari besi. Jika tak tersebar mungking akan bingung cari dimana pulpen, dimana pensil dan dimana penghapus. Andai tidak tertempel akan pusing tujuh keliling dimana laporan harian tersebut. Tulisan kecil dan tak rapi didepan PC adalah huruf-huruf keramat, karena berisi target produksi hari ini, minggu ini dan bulan ini.
Memang semua berantakan, menunjukan mobiltas pekerjaan. Jika harus dirapikan juga percumah, karena sebentar lagi akan kembali berantakan. Andai pulang kerja di rapikan, mungkin sia-sia karena saat itu sudah jam 11 malam dan jam 7 pagi sudah harus kembali. Jika akhir pekan ditata ulang juga tak berpengaruh banyak, karena sewaktu-waktu ada panggilan harus segera datang dan berantakan. Mejaku yang berantakan mempermudah dalam pekerjaan, dan orak ini sudah hapal dimana harus diletakan dan dikembalikan. Secara visual memang berantakan, tetapi disitu ada keteraturan yang orang lain tidak bisa saksikan dan terjemahkan.
Cinta, sebuah bahasa universal sebagai ungkapan rasa yang diterjemahkan dalam tindakan. Sulit memang menggambarkan cinta itu seperti apa, hanya lewat tindakan cinta itu dinyatakan. Biasanya cinta itu diungkapkan kepada pasangan atau orang terdekat, ABG kepada pacarnya, calon pengantin kepada pasangannya. Mencoba melihat cinta dari sebuah kehidupan yang saya pelajari, dan akhirnya saya jatuh cinta kepadanya yaitu Biologi. Ilmu kehidupan yang membawa saya masuk dalam dimensi-dimensi kehidupan yang saling terhubung satu dengan yang lain dalam rantai dan jejaring kehidupan. Biologi, cinta pertama saya yang membuat saya terjebak dan begitu menikmatinya. Satu kajian ilmu tentang kehidupan, dan jika ingin melihat cinta disanalah habitat yang tepat. Cinta adalah bahasa kehidupan, dan milik semua mahluk hidup. Cinta tak mengenal batasan, walau acapkali manusia meras paling sempurna karena memiliki akal pikiran dan hati nurani, yang membedakan dengan mahluk hidup lain. Apakah mahluk hidup lain mempunyai cinta?, saya bilang ”iya”, hanya kita yang tak mengerti bahasa cinta mahluk-mahluk selain manusia. Bahasa cinta untuk hewan, bisa diterjemahkan sebagai naluri alami. Seekor induk Monyet akan bertahan mati-matian menjaga anaknya, dari setiap ancaman. Seekor induk ayam, rela berpuasa dan mengerami telurnya hingga menetas. Seeokor induk Arwana, rela tak makan demi melindungi anak-anaknya dalam mulutnya dari ancaman predator. Lebih ekstrim lagi induk laba-laba yang mengorbankan dirinya untuk makanan anak-anaknya. Di balik kehidupan yang liar, saling memakan, kanibal, ternyata masih ada sisi untuk menyatakan cinta lewat bahasanya. Sebuah bahasa cinta yang diterjemahkan dalam bentuk insting oleh hewan, yang acapkali jauh lebih besar dari kita yang jauh lebih sempurna. Tak berbeda dengan tumbuhan, walau tak ada insting tetapi tetap saja bisa diterjemahkan sebagai wujud cintanya. Tumbuhan, biasanya sebelum mati, dia akan regenerasi atau beranak. Pohon pisang, setelah berbuah akan mati, tetapi terlebih dahulu menumbuhkan tunas-tunas baru. Induk yang mati, memberikan makanan makanan anaknya dari tubuhnya yang membusuk, lalu terurai dan menjadi materi organik yang subur. Bagaimana jika di bumi tak ada tumbuhan..? maka cinta itu tidak bisa diwujud nyatakan. Tumbuhan sebagai mahluk yang menghasilkan oksigen dan makanan, adalah sumber kehidupan dan selayaknya manusia jauh lebih hormat terhadapnya, tetapi kenyataannya berbeda. Sebagai paru-paru dunia, kini dibabat habis, alih fungsi lahan, dan alampun murka, manusia juga yang kena, inikah pembalasan cintanya? kejamnya manusia. Bagaimana dengan mahluk kasat mata?, seperti; bakteri, virus, alga, amuba dan lain sebagainya. Dimana rasa cinta mereka?. Rasa cinta mereka adalah membuat dunia ini tidak penuh oleh bangkai. Bayangkan tanpa kehadiran mereka sebagai mahluk pengurai materi kehidupan, tentu saja tak ada yang membusuk dan bumi penuh dengan bangkai serta kotoran. Bahasa cinta yang diwujudkan dengan mengembalikan materi-materi yang tersusun kemudian diurai dan kembali menjadi materi aslinya. Bagaimana jika kita makan nasi keluar nasi, makan roti keluar roti, sungguh mengerikan bukan..? dan inilah tugas mereka untuk merombak semua. Apa wujud rasa cinta kita? perlakukan mereka dengan baik dan jangan cemari habitat mereka. Mungkin kita dengan mudah dan sembarangan membuang cairan disinfektan agar kita bersih, disana mereka tersiksa dan mati sia-sia. Ingat tanpa kehadiran mereka kita bukan siapa-siapa, mereka tak tergantung pada kita, tetapi sepeuhnya kita menggantungkan hidup dengan mereka. Cinta yang universal dalam kehidupan, niscaya diterjemahkan dalam hubungan yang sinergis antar komponen kehidupan. Salah satu dari komponen tersebut kita putus cintanya, niscaya bencana akan datang. Membabat hutan, sudah jelas akibatnya. Berburu burung-burung liar, serangan ulat meraja lela. Membuang bahan beracun sembarangan, lingkungan tercemar dan berbahaya. Manusia adalah predator paling atas yang dilengkapi, akal pikiran dan hati nurani. Apabila cinta itu hilang, berarti sengaja merusak tatanan kehidupan yang sinergis berubah menjadi antagonis. Berikan cinta kita sebagai wujud mahluk yang sempurna kepada kehidupan yang ada, dan inilah cinta saya dalam belajar kehidupan.
| |